HidayatullahSulbar.Com, Motivasi – Di zaman ketika gawai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, banyak orang tua berada dalam dilema.
Di satu sisi, teknologi memberi banyak manfaat untuk pendidikan dan perkembangan anak. Di sisi lain, penggunaan layar yang berlebihan dapat membawa dampak kurang baik bagi kesehatan fisik, emosi, dan karakter anak. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar melarang anak menggunakan gawai, tetapi mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak.
Islam memandang, anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan diarahkan. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berilmu, dan memiliki akhlak yang baik. Termasuk dalam hal penggunaan teknologi.
Hal ini akan menyita perhatian khusus,karena selain sebagai dai diblrmbaga dakwah, orangtua tetap harus fokus dengan amanah mengasuh putra putri istimewa’.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga pola hidup, pendidikan, lingkungan, dan kebiasaan yang membentuk kepribadian mereka.
Yang harus selalu diingat adalah, anak bukan musuh yeknologi, tetapi harus dibimbing
Banyak orang tua menganggap gawai sebagai ancaman. Padahal teknologi hanyalah alat.
Pisau bisa digunakan untuk memasak, tetapi juga bisa melukai. Begitu pula internet dan gawai: bisa menjadi sarana belajar, mencari ilmu, dan mengembangkan kreativitas, namun di saatvyang sama dia bisa menjadi masalah jika tanpa batasan.
Karena itu sependek yang saya pahami, screen time atau waktu penggunaan layar menjadi penting.
Anak perlu dikenalkan dengan aturan yang sehat: kapan boleh menggunakan gawai, berapa lama durasinya, serta apa yang boleh dan tidak boleh diakses.
Islam mengajarkan prinsip keseimbangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam berbagai hal. Sesuatu yang halal sekalipun bisa menjadi tidak baik apabila digunakan secara berlebihan dan melalaikan kewajiban.
Mengatur screen time bukan hanya soal membatasi waktu bermain, tetapi melatih disiplin anak. Anak belajar bahwa setiap kesenangan memiliki aturan.
Misalnya, orang tua bisa membuat kesepakatan sederhana:
menggunakan gawai setelah menyelesaikan tugas sekolah;
berhenti bermain ketika waktu ibadah tiba;
tidak membawa gawai saat makan bersama keluarga;
memilih tontonan yang mendidik.
Kebiasaan kecil seperti ini akan membentuk karakter anak yang mampu mengendalikan diri. Sebab tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak pintar menggunakan teknologi, tetapi juga pintar mengendalikan dirinya.
Ingat, jangan biarkan layar menggantikan kehadiran orang tua
Salah satu tantangan terbesar era digital adalah ketika gawai menjadi “pengasuh” anak. Anak diberikan layar agar diam, sementara orang tua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Padahal anak tidak hanya membutuhkan hiburan, tetapi juga membutuhkan perhatian, dialog, dan kasih sayang.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam mendidik anak.
Beliau menunjukkan kelembutan, mendengar, bermain, dan memberi perhatian kepada anak-anak. Kedekatan emosional inilah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Sebaik-baiknya aplikasi pendidikan, tetap lebih berharga percakapan hangat antara orang tua dan anak.
Anak yang hanya dilarang biasanya akan mencari jalan sendiri ketika tidak diawasi. Karena itu, pendekatan yang lebih baik adalah mendampingi. Mengawasinya tanpa harus memata matai.
Orang tua bisa sesekali melihat apa yang anak tonton, berdiskusi tentang konten yang mereka lihat, dan menjelaskan mana yang baik serta mana yang harus dihindari.
Dengan begitu, anak tidak hanya patuh karena takut diawasi, tetapi memahami alasan di balik aturan tersebut.
Generasi hari ini akan hidup di dunia yang semakin digital. Mengisolasi mereka sepenuhnya dari teknologi bukan solusi. Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab.
Orang tua perlu menanamkan bahwa teknologi adalah sarana untuk kebaikan: mencari ilmu, berkarya, memaksimalkan tugas dakwah, dan memberi manfaat bagi umat.
Pada akhirnya, screen time bukan tentang berapa lama anak memegang layar, tetapi bagaimana layar itu digunakan.
Karena anak bukan hanya pewaris zaman digital, tetapi juga penerus nilai-nilai iman yang termanifestasi ke dalam kehidupan sehari-hari. (bash)


