Ayah Penentu Mental Anak

0
34

HidayatullahSulbar.Com, PARENTING – Keluarga merupakan sekolah pertama bagi sang anak. Di dalamnya, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi. Dalam banyak keluarga, ayah memikul tanggung jawab sebagai pemimpin yang memberikan arah, perlindungan, keteladanan, serta disiplin.

Kepemimpinan lebih berkaitan dengan kemampuan memikul tanggung jawab, mengambil keputusan yang bijaksana, hadir secara emosional, serta menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap kepala keluarga memikul tanggung jawab untuk menjaga keluarganya dari keburukan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ…

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”
(QS. At-Tahrim [66]: 6)

Kepemimpinan, bagi figur ayah harus dilatih sejak jauh jauh hari sebelumnya, sejak ia masih menjadi anak usia remaja dengan mengonsumsi makanan halal-thoyyib, gemar beibadah, punya attitude serta bertanggung jawab.

Ayah yang menghindari tanggung jawab, tidak konsisten dalam mendidik, atau bersikap acuh terhadap kehidupan anak berpotensi menciptakan kekosongan figur yang sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang.

Fatherless, fenomena kondisi keluarga tanpa kehadiran figur ayah.

Ini adalah kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau tanpa peran ayah yang memadai dalam kehidupannya. Istilah ini tidak selalu berarti ayah telah meninggal dunia atau tidak tinggal serumah.

Seorang anak juga dapat mengalami fatherless apabila ayahnya ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional, tidak terlibat dalam pengasuhan, atau mengabaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Sebagian lainnya mengalami kesulitan mengendalikan emosi, kurang percaya diri, atau sulit menghormati aturan karena tidak terbiasa melihat ketegasan yang disertai kasih sayang di rumah.

Pada beberapa kasus, anak mencari figur pengganti di luar keluarga, yang belum tentu membawa pengaruh positif.

Anak yang terus-menerus menyaksikan pertengkaran, sikap saling merendahkan, atau ketidakjelasan peran orang tua berisiko mengalami tekanan emosional yang memengaruhi kesehatan mentalnya.

Namun demikian, penting dipahami bahwa kondisi mental anak tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Pola asuh ibu, hubungan antaranggota keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, kondisi ekonomi, pengalaman traumatis, serta faktor biologis juga berkontribusi terhadap perkembangan psikologis anak.

Oleh karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap masalah mental anak semata-mata disebabkan oleh lemahnya kepemimpinan ayah.

Pada akhirnya, membangun generasi yang tangguh memerlukan keluarga yang menjalankan perannya secara seimbang. Ayah sebagai pemimpin keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan berlandaskan nilai-nilai al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari harinya. (bash)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini