Literasi sebagai Jalan Peradaban, Kader Hidayatullah Sulbar Diajak Tingkatkan Budaya Membaca

HidayatullahSulbar.Com, Mamuju – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat menggelar Silaturahmi Kader Hidayatullah se-Sulawesi Barat secara daring pada Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan yang diikuti jaringan kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Sulbar ini menjadi momentum penguatan budaya literasi sebagai fondasi kepemimpinan dan pembangunan peradaban.

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulbar, Syamsuddin, S.Sos.I., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.S.I., sebagai pemateri tunggal.

Dalam pemaparannya yang bertema “Literasi Wujud Aktualisasi Manhaj Sistematika Wahyu”, ia menekankan pentingnya budaya membaca bagi setiap kader.

Menurut Abdul Ghofar Hadi, perubahan tidak boleh menunggu keadaan menjadi ideal. Justru ketika berbagai persoalan muncul di tengah masyarakat, kader Hidayatullah dituntut hadir sebagai jembatan solusi melalui wawasan, ilmu, dan kemampuan memahami realitas secara tepat.

“Untuk melakukan perubahan jangan menunggu kondisi membaik terlebih dahulu. Ketika ada masalah di lapangan, di situlah fungsi kita untuk menjembatani dan memberikan solusi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa semangat saja tidak cukup untuk menggerakkan kepemimpinan dan dakwah. Kader perlu membangun kedekatan dengan ilmu pengetahuan melalui kebiasaan membaca dan memperkaya referensi.

“Tidak mungkin kepemimpinan hanya bertumpu pada spirit. Kader harus memiliki kegemaran membaca dan memperluas referensi agar mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

Kondisi literasi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Perpustakaan Nasional, Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati posisi tertinggi dalam indeks pembangunan literasi masyarakat dengan skor 62,05 poin. Sementara itu, Sulawesi Barat berada pada angka 48,63 poin.

Data tersebut, hendaknya menjadi pemacu semangat bagi kader Hidayatullah Sulawesi Barat untuk menjadi generasi yang visioner, berwawasan luas, dan kaya literasi.

Ia menambahkan bahwa aktivitas menonton tidak dapat sepenuhnya menggantikan efektivitas membaca. Membaca dinilai lebih aktif dalam membangun daya pikir, memperluas pengetahuan, serta memperkuat kemampuan analisis seseorang.

“Dengan membaca, seseorang dapat mengendalikan emosi, memahami keadaan secara lebih baik, serta memperoleh referensi keilmuan yang lebih luas,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ia mengutip pernyataan Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman, yang menyatakan, “Tidak semua pembaca adalah pemimpin, tetapi semua pemimpin adalah pembaca.”

Menurutnya, setiap amanah dan posisi dalam struktur organisasi memerlukan pengetahuan yang memadai. Karena itu, membaca merupakan investasi penting untuk meningkatkan kapasitas diri. Ia mendorong kader untuk menjadikan pembelian dan pengoleksian buku sebagai bagian dari investasi jangka panjang.

Selain memberikan motivasi, kegiatan ini juga melahirkan sejumlah gagasan strategis untuk meningkatkan indeks minat baca di lingkungan Hidayatullah Sulawesi Barat.

Di antaranya adalah gerakan Satu Kader Satu Buku per Bulan, pembentukan Klub Literasi Hidayatullah di setiap daerah, program 15 Menit Membaca Sebelum Rapat atau Halaqah, serta penyelenggaraan bedah buku dan resensi bulanan yang melibatkan kader, santri, guru, dan masyarakat.

Gagasan lainnya adalah pembangunan Pojok Literasi Hidayatullah di masjid, pesantren, dan kantor-kantor organisasi, serta pemanfaatan platform digital untuk berbagi ringkasan buku, rekomendasi bacaan, dan diskusi keilmuan secara berkala.

Menurut para peserta, langkah-langkah tersebut dapat menjadi ikhtiar nyata untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Sulawesi Barat.

Menutup pemaparannya, Abdul Ghofar Hadi mengingatkan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas tradisi membaca dan menulis. Karena itu, budaya literasi harus menjadi bagian dari identitas kader Hidayatullah.

“Jangan berbicara tentang peradaban tanpa budaya membaca. Tidak ada peradaban besar yang lahir tanpa literasi. Dengan membaca, seseorang mampu memahami realitas, bahkan mengubah keadaan menjadi lebih baik,” tegasnya.

Kegiatan silaturahmi kader ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan literasi yang lebih masif di lingkungan Hidayatullah Sulawesi Barat, sehingga mampu melahirkan kader-kader pembelajar yang siap menjawab tantangan umat dan zaman dengan ilmu, hikmah, serta karya nyata. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *