Hidayatullah Pasangkayu Gelar Perkemahan Akbar Peringati Hari Santri Nasional 2026

0
14

HidayatullahSulbar.Com, Dapurang, Pasangkayu — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Pasangkayu sukses menggelar Perkemahan Akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Selasa hingga Kamis (20–22 Oktober 2026), tersebut dipusatkan di Kampus Hidayatullah Bulubonggu, Kecamatan Dapurang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi, pengembangan bakat, serta penguatan silaturahmi keluarga besar Hidayatullah di Kabupaten Pasangkayu. Sebanyak 150 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 30 pengurus dan guru serta 120 santri, yakni 45 santri putra dan 75 santri putri. Para santri merupakan perwakilan dari lima cabang Hidayatullah se-Kabupaten Pasangkayu.

Selama tiga hari pelaksanaan, para santri mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk membentuk karakter, memperkuat spiritualitas, serta mengembangkan potensi diri.

Rangkaian kegiatan meliputi perkemahan untuk membangun kemandirian, kedisiplinan, dan kerja sama tim; Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) melalui ibadah malam berjamaah, zikir, dan kajian keislaman; serta aneka perlombaan kreativitas dan olahraga.

Cabang perlombaan yang digelar meliputi ceramah, baca puisi, kaligrafi, azan, panahan, bulu tangkis, futsal, dan sepak takraw. Seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui upacara peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis pagi.

Avid Rusyadi: Musuh Santri Hari Ini adalah Kebodohan dan Kemerosotan Akhlak

Upacara puncak HSN 2026 berlangsung khidmat mulai pukul 07.00 WITA. Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Hidayatullah Baras, Ustaz Sudarmin, S.E., bertindak sebagai komandan upacara. Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Pasangkayu, Ustaz Avid Rusyadi, S.Pd.I., bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Avid Rusyadi menegaskan bahwa medan perjuangan santri pada era modern telah mengalami pergeseran. Menurutnya, tantangan santri saat ini tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik, tetapi juga mencakup upaya melawan kebodohan, kemalasan, serta kemerosotan moral dan akhlak.

“Musuh terbesar santri saat ini bukanlah tentara sekutu yang mengangkat senjata, bukan penjajah yang memegang meriam. Musuh terbesar santri hari ini adalah kebodohan, kemalasan, serta pemerosotan moral dan akhlak,” tegas Avid Rusyadi di hadapan para peserta upacara.

Ia kemudian menyampaikan sejumlah pesan penting sebagai refleksi perjuangan santri dalam menyongsong tema nasional “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”

Mengenang Sejarah Perjuangan Santri

Avid mengingatkan para santri agar tidak melupakan sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Hari ini kita berdiri di sini karena ada darah, peluh, dan air mata para ulama serta santri terdahulu. Tepat pada 22 Oktober 1945, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad. Peristiwa itu menjadi pemantik api perlawanan kaum sarungan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah. Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah besar ini,” ujarnya.

Jihad Santri di Era Modern

Menurut Avid, tema Hari Santri Nasional tahun ini merupakan panggilan sejarah bagi generasi santri untuk melanjutkan perjuangan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pengembangan teknologi.

“Jihad kita hari ini bukan lagi angkat senjata, melainkan angkat pena dan pemikiran. Jika santri zaman dahulu bertempur di medan perang demi kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah bertempur melawan keterbelakangan, mengentaskan kemiskinan, dan menguasai teknologi demi mengantarkan bangsa ini menuju gerbang Indonesia Emas,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pesantren sebagai benteng moral dan spiritual bangsa. Menurutnya, santri harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan umum dan teknologi.

“Pesantren Hidayatullah harus tetap tegak berdiri menjadi benteng moral dan spiritual bangsa. Di era modern ini, menjadi salaf yang saleh saja tidak cukup. Santri dituntut untuk menguasai dua sayap kekuatan: kuat dalam ilmu agama (tafaqquh fiddin) sebagai kompas moral, sekaligus mahir dalam ilmu pengetahuan umum dan teknologi agar mampu memimpin dan berdaya saing di kancah global,” jelasnya.

Santri Harus Menjadi Pelopor Persatuan

Selain penguatan ilmu dan karakter, Avid mengajak seluruh pengurus, guru, dan santri dari lima cabang Hidayatullah se-Kabupaten Pasangkayu untuk menjadi pelopor persatuan serta menjaga keutuhan bangsa.

“Saya berpesan kepada seluruh pengurus, guru, dan para santri dari lima cabang Hidayatullah se-Pasangkayu, jadilah pelopor persatuan. Jaga terus nilai-nilai moderasi, rekatkan ukhuwah, dan bentengi NKRI ini dari segala potensi perpecahan. Di tangan santri yang bersatu, masa depan negeri ini akan aman dan sejahtera,” pesannya.

Seluruh rangkaian Perkemahan Akbar dan peringatan Hari Santri Nasional 2026 ditutup dengan pengumuman pemenang lomba serta doa bersama. Doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kemajuan jemaah, dan keberkahan bagi Kabupaten Pasangkayu.

Melalui kegiatan ini, DPD Hidayatullah Kabupaten Pasangkayu berharap semangat kebersamaan, kemandirian, keilmuan, dan pengabdian para santri semakin kuat dalam mengambil peran bagi agama, masyarakat, dan bangsa. (av)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini