Halaqah Kubra Hidayatullah Sulbar: Perkuat Kepemimpinan, Teguhkan Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

0
39

HidayatullahSulbar.Com, Mamuju – Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar Halaqah Kubra dengan tema “Transformasi Kepemimpinan Hidayatullah Menuju Organisasi yang Mandiri dan Berpengaruh” di Hidayatullah Mamuju, selama tiga hari, 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Kegiatan yang diikuti sekitar 200 peserta ini dihadiri oleh kader Hidayatullah dari seluruh wilayah Sulawesi Barat. Halaqah Kubra merupakan forum pembelajaran bersama dengan metode melingkar dalam skala besar yang dilaksanakan setiap empat bulan sekali.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. Muhammad Naim Thahir, saat membuka kegiatan mengatakan, terselenggaranya acara tersebut merupakan cerminan soliditas dan kinerja kolektif para kader.

“Ini momen mahal, bukan hanya untuk mendapatkan transformasi ilmu agama dan penguatan wawasan kelembagaan, tetapi sekaligus menjadi ajang temu kangen sesama kader,” ungkapnya.

Terdapat tiga agenda utama dalam kegiatan tersebut, yakni Pengajian Akbar, Halaqah, serta Ngobras atau Ngobrol Bersama Petugas yang dikemas dalam bentuk talk show. Pada penghujung kegiatan, para peserta juga mengikuti pertandingan mini soccer sebagai ajang mempererat kebersamaan dan kekompakan.

Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup dan Pembangun Peradaban

Dalam sesi Pengajian Akbar, Ustaz KH. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syuro Hidayatullah, hadir sebagai pemateri dengan tema “Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup: Menata Hati, Membimbing Langkah, Membangun Peradaban Islam.”

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa salah satu hal mendasar yang membedakan manusia dengan binatang adalah cara berpikirnya.

“Manusia dengan binatang secara fisik sama, bedanya pada cara berpikirnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki dua dimensi, yakni fisik dan spiritual. Manusia memiliki pilihan untuk beriman atau kufur, yang masing-masing membawa konsekuensi dalam kehidupan akhirat, berupa surga atau neraka.

Menurutnya, manusia yang tidak mengisi dimensi spiritualnya dengan nilai-nilai Al-Qur’an berpotensi terjerumus dalam perilaku yang lebih buruk daripada binatang.

Untuk menggambarkan hal tersebut, ia mencontohkan seekor sapi dewasa yang mengusir sapi kecil demi menguasai rumput yang sedang dimakannya. Namun, setelah kenyang, sapi dewasa itu akan pergi meninggalkan tempat tersebut sehingga sapi kecil dapat kembali memakan rumput.

Berbeda dengan manusia, keserakahan dapat terus berlanjut meskipun kebutuhan telah terpenuhi.

“Namun, keserakahan manusia lebih dari keserakahan hewan,” tegasnya.

Lantas, bagaimana manusia menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup?

Ustaz Abdul Aziz menjelaskan bahwa langkah pertama adalah mempelajari Al-Qur’an, membacanya, memahami makna yang terkandung di dalamnya, serta mengajarkan kandungannya kepada orang lain.

Ia juga menekankan bahwa kewajiban seorang Muslim terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada membaca dan mengamalkannya secara pribadi, tetapi juga mendakwahkan nilai-nilainya kepada masyarakat.

Menurutnya, Islam tidak cukup hanya dinikmati untuk kepentingan diri sendiri. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam melalui dakwah yang berlandaskan Al-Qur’an.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi, tetapi juga landasan dalam membangun kepemimpinan, menguatkan kelembagaan, dan mewujudkan peradaban Islam. (bash)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini