Fatherless, Ada Ayah Tapi Tidak Ada Figurnya

0
14

HidayatullahSulbar.Com, Motivasi – Ketidak hadiran sosok ayah dalam keluarga baik sudah wafat atau masih hidup karena perceraian, kedua faktor punya dampak terhadap proses tumbuh kembang anak.

Pernah di suatu waktu saya pernah mengunggah status WhatsApp begini; Tugas ayah membuat penghuni rumah merasa tenang, senang dan kenyang.

Keesokan harinya sebelum masa orbit berakhir status tersebut, seseorang mengomentari dengan bertanya, bagaimana jika ayah sudah tiada?

“Hebatnya ibu bisa hadir sebagai sosok pemimpin di keluarga” Jawabku singkat.

Anggota keluarga yang terdiri dari ayah, bunda dan anak sering dimaknai sebagai keluarga yang utuh. Belum tentu. Bisa jadi mereka sudah ‘yatim’ sebelum ayahnya meninggal.

Kondisi terburuk ketika ada ayah tapi tidak ada kepemimpinan, ada ayah tapi tidak ada keteladanan bahkan adanya ayah menjadi contoh buruk bagi anaknya.

Ayahlah kadang yang mengajarkan secara tidak langsung abai akan sholat lima waktu dan berjamaah. Tidak gelisah jika tidak baca al Qur’an. Tidak mengajak bersedekah.

Ayahlah terkadang yang sering melakukan perundungan pada anak saat melihat nilai rapornya menurun yang seyogyanya tampil menjadi motivator.

Jangan heran kalau anak tidak bisa menikmati keadaan rumah yang menyenangkan perasaannya, belum tentu bisa betah berlama lama dengan suasana kamar berornamen kartun figuran idolanya dan acap kali mereka lebih menyukai panganan dan jajanan kekinian dengan varian rasa berbeda.

Sebagai kepala keluarga, ayah sering harus tampil menjadi manusia super. Pada waktu luang, larutlah dalam momen si ‘akhwat cilik’ ceria karena menurutnya berhasil merias wajah.

Meskipun sebenarnya wajah tersebut adalah wajah ayahnya, olesan gincu tebal dan melebar hingga di luar sudut bibir, bedak bayi di tabur memenuhi seantero kulit kasar dengan kumis tipisnya.

Bisa jadi bagi ‘perias ulung’ performa itu adalah hasil sempurna yang menyenangnya meskipun si Kakak lebih suka menyebut riasan itu mirip wajah Joker.

Ayah, bangunlah kedekatan itu dengan cara yang bisa membuat mereka senang. Kalau saja dengan teman kerja kita rela menghabiskan waktu dan mentraktir makanan, berlama lama di kafe dengan racikan kopi yang ciamik dari barista berpengalaman.

Lalu bagaimana dengan mengenyangkan anak dan berlama lama dengan suasana senang di salah satu sudut pekarangan rumah, maka momen itu kesempatan baik memberikan  ‘kata kata hari ini’ untuk mereka.

Ayah, hadirlah dalam kehidupan nyata di rumah. Kenyangkan mereka dengan asas dasar halal-thoyib, tenangkan putra-putri anda dengan keakraban yang terus terjalin dan senangkan hatinya dengan motivasi kecil yang berdampak besar dalam hidupnya. (bash)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini