Dai Sejati, Dakwahnya Dimulai dari Rumah

0
30

HidayatullahSulbar.Com, Dakwah – Menjadi dai bukan sekadar pandai berbicara di hadapan jamaah lalu sering mendapat undangan berceramah di masyarakat. Dakwah adalah amanah yang menuntut ilmu, keikhlasan, adab dan keteladanan.

Karena itu, dakwah seorang dai harus dimulai dari rumah. Rumah adalah tempat paling jujur untuk melihat akhlak seseorang. Di hadapan jamaah, dai bisa berbicara tentang kesabaran dan kasih sayang. Tetapi di rumah, ketika lelah dan menghadapi persoalan, di situlah akhlak sebenarnya diuji.

Jangan sampai seorang dai mengajarkan kesabaran kepada masyarakat, tetapi mudah marah kepada istri dan anak. Sebab dakwah yang paling kuat bukan hanya yang terdengar oleh telinga, tetapi yang terlihat dalam perilaku.

Istri dan Anak, Bagian dari Perjuangan Dakwah, Di balik seorang dai yang berdakwah di luar rumah, ada keluarga yang ikut menopang perjuangannya.

Istri menjadi sumber ketenangan, teman bermusyawarah, pemberi semangat sekaligus pengingat ketika suami mulai keliru. Anak-anak pun menjadi bagian dari perjuangan dengan memahami amanah ayahnya.

Namun, dakwah tidak boleh menjadi alasan mengabaikan keluarga. Keluarga bukan korban dakwah, tetapi bagian dari keberkahan dakwah.

Dai harus mampu menunaikan hak keluarga sekaligus menjalankan amanah kepada masyarakat.

Bekal Dai di Tengah Masyarakat, Sebelum terjun ke tengah masyarakat, dai perlu mempersiapkan beberapa bekal: ilmu, ikhlas, adab, sabar dan hikmah.

Dai juga harus memahami kondisi masyarakat yang dihadapinya. Tidak semua orang dapat dinasihati dengan cara yang sama. Ada kalanya harus lembut, ada saatnya tegas, dan ada waktunya diam.

Yang tak kalah penting adalah menjaga hubungan antara lisan dan perbuatan.

Uswah Hasanah adalah Dakwah yang Hidup, Uswah hasanah atau keteladanan adalah modal penting seorang dai. Masyarakat mungkin lupa isi ceramah, tetapi mereka akan mengingat bagaimana seorang dai memperlakukan orang lain.

Apakah ia jujur? Apakah ia rendah hati? Apakah ia sabar ketika dikritik? Apakah ia baik kepada istri, anak, tetangga dan masyarakat?

Allah berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan.

Maka seorang dai hendaknya tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya sampaikan?” tetapi juga, “Apa yang harus saya perbaiki dalam diri saya?”

Sebab dai sejati bukan hanya orang yang mengajak kepada kebaikan, tetapi orang yang berusaha menjadikan kehidupannya sendiri sebagai teladan kebaikan.

Dakwah dimulai dari diri, tumbuh di rumah, lalu mengalir kepada masyarakat. (bash)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini