HidayatullahSulbar.Com, Motivasi – Mungkin masih ada yang beranggapan bahwa pesantren tidak menjanjikan masa depan. Saya pernah mendengar seseorang bertanya, “Kalau sekolah di pesantren, nanti mau jadi apa? Mau kerja apa?” dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah mengukur masa depan hanya dari pekerjaan dan profesi.
Padahal, pesantren bukan semata-mata tentang akan menjadi apa kita kelak atau pekerjaan apa yang akan kita dapatkan. Pesantren adalah tentang bagaimana kita menjalani kehidupan dengan penuh keberkahan.
Pesantren membentuk karakter dalam diri kita. Sejak menjelang Subuh hingga kembali beristirahat pada malam hari, ada proses pendidikan yang terus berjalan.
Ada kultur kebaikan yang dijaga, ada fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—yang senantiasa diajarkan, dan ada ilmu yang dipelajari sebagai bekal untuk menjalani kehidupan selanjutnya.
Di pesantren, para ustadz mengajarkan kita bagaimana menjadi anak yang berkarakter, menjadi anak yang saleh dan salehah.
Bukan sekadar slogan yang indah diucapkan, melainkan nilai-nilai yang dicontohkan melalui keteladanan. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang nasihat yang didengar, tetapi juga tentang perilaku yang dilihat dan diteladani setiap hari.
Kita diajarkan bagaimana menghormati dan mendoakan orang tua, bagaimana bertakzim kepada mereka, menghargai yang lebih tua, serta menyayangi yang lebih muda.
Semua itu bukan sekadar teori, melainkan bagian dari upaya mengamalkan ajaran Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Ada satu hal yang selalu saya ingat dari kehidupan di pesantren. Saya menyaksikan sendiri bagaimana guru-guru kami menjalani kehidupan mereka.
Jika dilihat dari sisi gaji pada waktu itu, bagi guru yang sudah berkeluarga, mungkin secara logika penghasilan tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.
Namun, saya tidak pernah melihat mereka mengeluh, apalagi menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti mengajar dan mendidik kami.
Mereka tetap hadir, tetap mengajar, tetap membimbing, dan tetap memberikan keteladanan.
Seiring berjalannya waktu, saya melihat bagaimana mereka tetap bisa membangun keluarga, memiliki rumah, memiliki kendaraan, bahkan mengirimkan anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan ke luar Jawa.
Dari situlah saya semakin memahami bahwa keberkahan tidak selalu bisa dihitung dengan angka, dan masa depan tidak selalu bisa diukur hanya dengan besarnya penghasilan.
Mungkin inilah salah satu makna keberkahan yang saya saksikan dari kehidupan guru-guru kami di pesantren.
Ada nilai yang lebih dalam daripada sekadar hitungan materi: ketekunan dalam pengabdian, ketulusan dalam mendidik, dan keyakinan untuk terus menjalani amanah.
Pesantren tentu tidak menjamin setiap orang akan memiliki jalan hidup yang sama. Namun, pesantren memberikan bekal yang sangat berharga: ilmu, adab, karakter, kedisiplinan, keteladanan, dan kebiasaan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Bekal itulah yang akan dibawa ke mana pun kita melangkah, apa pun profesi yang kelak kita jalani, dan bagaimana pun kehidupan yang akan kita hadapi.
Jangan hanya bertanya, “Lulusan pesantren nanti mau jadi apa?”
Tetapi, tanyakan pula, “Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui pendidikan?”
Sebab, masa depan bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang menjadi manusia yang berilmu, beradab, bertanggung jawab, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama, dan mampu menjalani kehidupan dengan penuh keberkahan.
Pesantren bukan sekadar tempat menyiapkan masa depan. Pesantren adalah tempat belajar menjalani kehidupan agar ilmu menjadi cahaya, adab menjadi karakter, pengabdian menjadi amal, dan seluruh perjalanan hidup bernilai ibadah.
Semoga Allah senantiasa memberkahi para guru kita, membalas setiap pengorbanan mereka, dan menjadikan ilmu serta keteladanan yang mereka wariskan sebagai amal jariyah yang terus mengalir. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
(najam)


