
HidayatullahSulbar.Com, Polewali Mandar — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Polewali Mandar, Ustadz Ahmad Syahril, S.Pd., menjadi penceramah dalam Pengajian Akbar Rutin Bulanan Majelis Ta’lim binaan Yayasan Ratih Al Kafaa se-Sulawesi Barat, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ratih Hotel, Polewali Mandar, tersebut diikuti lebih dari 600 jamaah dari berbagai wilayah di Sulawesi Barat. Pengajian ini menjadi salah satu agenda rutin pembinaan keagamaan yang diselenggarakan Majelis Ta’lim binaan Yayasan Ratih Al Kafaa.
Koordinator Majelis Ta’lim Yayasan Ratih Al Kafaa, Ustadzah H. Nurlina, S.Ag., mengatakan pembinaan majelis ta’lim tersebut telah berjalan konsisten selama lebih dari 15 tahun.
Menurutnya, program pembinaan dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pembelajaran Al-Qur’an, shalawatan, hingga pengajian rutin. Pengajian akbar sendiri dilaksanakan setiap tanggal 17 setiap bulannya sebagai sarana silaturahmi dan pembinaan keislaman bagi jamaah.
“Program ini telah berjalan konsisten selama lebih dari 15 tahun, dengan berbagai macam pembinaan di majelis ta’lim, mulai dari pembelajaran Al-Qur’an, shalawatan, hingga pengajian rutin,” ungkapnya.
Tiga Sumber Kebahagiaan
Dalam tausiyahnya, Ahmad Syahril menyampaikan materi tentang tiga hal yang menjadi sumber kebahagiaan dalam kehidupan seorang Muslim, yakni berusaha bersyukur, berusaha bersabar, dan senantiasa bertaubat.
Ia mengajak jamaah untuk menjadikan ketiga nilai tersebut sebagai bagian dari sikap dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Berusaha bersyukur, berusaha bersabar, dan senantiasa bertaubat,” menjadi tiga pesan utama yang disampaikan Ahmad Syahril dalam pengajian tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang Muslim tidak semata-mata diukur dari harta, kedudukan, maupun pencapaian duniawi. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kemampuan seorang hamba dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Syukur mengajarkan seorang Muslim untuk menyadari dan menghargai berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT. Sabar menjadi kekuatan ketika menghadapi ujian dan berbagai keadaan dalam kehidupan. Adapun taubat menjadi jalan bagi seorang hamba untuk kembali kepada Allah SWT sekaligus memperbaiki diri.
Ketiga nilai tersebut, lanjutnya, perlu diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat sehingga pembinaan keagamaan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ajak Bersinergi dalam Dakwah
Selain menyampaikan materi pengajian, Ahmad Syahril mengajak jamaah untuk membangun sinergi dalam dakwah dan pembinaan umat melalui program Hidayatullah, termasuk Gerakan Nasional Mengajar dan Belajar Al-Qur’an (GranD MBA), khususnya Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH).

Menurutnya, dakwah dan pelayanan umat membutuhkan keterlibatan serta kolaborasi berbagai pihak agar pembinaan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kalangan.
“Ini bagian dari dakwah dan pelayanan umat. Kita hadir di tengah-tengah umat, menjawab panggilan dan kebutuhan sebagai da’i,” ungkapnya.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara DPD Hidayatullah Polewali Mandar dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya majelis ta’lim, dalam pengembangan pembinaan Al-Qur’an dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Sinergi dan kolaborasi diharapkan dapat membuka ruang pembinaan yang lebih luas sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh akses belajar Al-Qur’an, penguatan pemahaman agama, dan pendampingan dalam kehidupan keislaman.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) Polewali Mandar. Kehadiran Mushida menjadi bagian dari sinergi bersama DPD Hidayatullah Polewali Mandar dalam bidang dakwah, pembinaan umat, dan pengembangan program keislaman.
Kolaborasi antara DPD Hidayatullah Polewali Mandar, Mushida, dan majelis ta’lim binaan Yayasan Ratih Al Kafaa diharapkan dapat terus diperkuat sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan pembinaan umat yang berkelanjutan dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat Sulawesi Barat.
Abu Haniyyah

