Masjid, Pusat Peradaban

0
49

HidayatullahSulbar.Com, Motivasi – Masjid bukan sekadar tempat mendirikan shalat. Dalam sejarah Islam, masjid adalah pusat kehidupan umat dan titik awal lahirnya sebuah peradaban.

Ketika Rasulullah Muhammad ﷺ hijrah dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah, salah satu prioritas utama beliau adalah membangun masjid.

Masjid Quba dan Masjid Nabawi menjadi bukti bahwa pembangunan umat dimulai dari pembangunan pusat spiritual dan sosial masyarakat. Masjid pada masa Rasulullah ﷺ memang sederhana jika dibandingkan dengan masjid kita hari ini.

Tidak ada kemewahan arsitektur, marmer yang mahal, atau fasilitas teknologi modern. Namun dari masjid yang sederhana itu lahir masyarakat yang mampu membangun peradaban besar.

Di masjid, Rasulullah ﷺ bermusyawarah, mendidik para sahabat, membangun persaudaraan, menyelesaikan persoalan umat dan memperhatikan kondisi masyarakat. Ketika ada sahabat yang tidak hadir, keberadaannya diperhatikan.

Ketika ada yang sakit atau mengalami kesulitan, Rasulullah ﷺ tidak membiarkannya sendirian.

Karena itu, masjid sesungguhnya bukan hanya tempat manusia mendekat kepada Allah, tetapi juga tempat manusia saling menemukan, memperhatikan, menguatkan dan memberdayakan.

Pandangan ini juga mendapat perhatian dari sejumlah sarjana Barat. W. Montgomery Watt, misalnya, melihat Muhammad ﷺ bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai tokoh yang berhasil membangun komunitas sosial-politik yang kuat.

Ini menunjukkan bahwa misi Rasulullah ﷺ membentuk masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya membangun kehidupan ritual.

Gagasan mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban menjadi sangat relevan untuk kita bicarakan hari ini. Dalam pertemuan organisasi kemasyarakatan yang diinisiasi Kanwil Kementerian Agama Sulbar pada Juli lalu, salah satu gagasan yang mengemuka adalah menghidupkan kembali fungsi masjid sebagaimana semangat pada zaman Rasulullah ﷺ.

Jangan ada dikotomi fungsi masjid. Shalat tetap menjadi fungsi utama, tetapi dari masjid juga harus tumbuh pendidikan, pembinaan generasi muda, kepedulian sosial, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pembinaan keluarga dan pelayanan masyarakat.

Kita patut bersyukur karena banyak masjid hari ini semakin megah, bersih dan nyaman. Itu adalah sesuatu yang baik. Namun kemegahan bangunan jangan sampai mengalahkan semangat menghidupkan jamaah.

Pertanyaannya bukan hanya “Seberapa megah masjid kita?”, tetapi “Seberapa besar manfaat masjid kita bagi masyarakat?”

Masjid harus menjadi magnet yang membuat masyarakat rindu datang. Anak-anak merasa nyaman belajar Al-Qur’an, pemuda menemukan ruang kreativitas, orang tua merasa dihormati, kaum dhuafa mendapatkan perhatian, dan siapa pun yang datang merasa diterima.

Ukuran keberhasilan masjid bukan hanya jumlah biaya pembangunannya, tetapi berapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena masjid.

Mari kita ramaikan masjid dengan salat berjamaah. Mari kita bangun masjid yang ramah, nyaman dan terbuka bagi seluruh kalangan.

Mari kita bangun kembali peradaban umat—dimulai dari masjid. (Najam)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini