Kenapa Tahun Baru Muharram?

0
27

HidayatullahSulbar.com, Wawasan Islam – Tanpa terasa, umat Islam kembali memasuki Tahun Baru Hijriah, tepatnya 1 Muharram. Pergantian tahun ini bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan momentum penting untuk merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki diri, dan memperbarui tekad dalam menapaki jalan ketaatan kepada Allah SWT.

Kalender Hijriah memiliki kedudukan istimewa karena berakar pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga menjadi titik balik kebangkitan Islam dari fase tekanan dan penindasan menuju terbentuknya masyarakat yang berlandaskan keimanan, persaudaraan, dan keadilan.

Hijrah sebagai Awal Peradaban Islam

Penetapan peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun 17 Hijriah. Saat itu, kebutuhan administrasi pemerintahan yang semakin berkembang menuntut adanya sistem penanggalan yang baku. Setelah melalui musyawarah para sahabat, dipilihlah peristiwa hijrah sebagai titik awal kalender Islam.

Pilihan tersebut mengandung pesan mendalam. Hijrah bukan hanya peristiwa historis, melainkan simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Dari sinilah umat Islam diajak untuk memahami bahwa setiap pergantian tahun sejatinya adalah ajakan untuk berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ketakwaan.

Muharram, Bulan yang Dimuliakan

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, selain Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan serta kezaliman.

Secara bahasa, kata Muharram berarti “yang diharamkan” atau “yang disucikan”. Pada masa lampau, peperangan dan pertumpahan darah dilarang dilakukan pada bulan ini. Karena itu, Muharram juga dikenal sebagai bulan perdamaian, bulan yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dan menghormati sesama.

Menyambut Tahun Baru dengan Ibadah

Berbeda dengan tradisi pergantian tahun yang identik dengan pesta dan hiburan, Islam mengajarkan agar Tahun Baru Hijriah disambut dengan peningkatan ibadah dan refleksi diri.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Tasu’a dan Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yaitu menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu.

Selain itu, momen Tahun Baru Hijriah juga sangat tepat dijadikan sarana muhasabah. Setiap Muslim dapat mengevaluasi perjalanan hidupnya selama setahun terakhir: sejauh mana ibadah telah diperbaiki, amanah telah ditunaikan, dan hubungan dengan sesama telah dijaga.

Tidak kalah penting, Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial. Di berbagai daerah di Indonesia, terdapat tradisi menyantuni anak yatim yang dikenal sebagai “Lebaran Anak Yatim”. Tradisi ini mencerminkan nilai luhur Islam yang mengajarkan kasih sayang dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Momentum Memulai Lembaran Baru

Pada akhirnya, Tahun Baru Hijriah bukanlah perayaan yang diwarnai kemeriahan berlebihan. Esensi utamanya adalah membangun kesadaran spiritual, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Jika pergantian tahun ini mampu mendorong kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar, maka sesungguhnya kita telah memahami makna hijrah yang sesungguhnya. (bash)

Selamat Tahun Baru 1 Muharram. Semoga setiap langkah yang kita tempuh pada tahun ini menjadi bagian dari hijrah menuju ridha Allah SWT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini