Panen (Hikmah dari) Pisang

DAYATULLAHSULBAR.COM, Hikmah- Bagi Anda yang suka menanam pohon pisang, apalagi pernah atau sering menikmati manis buahnya serta bersyukur bisa merasakan hasil penjualannya, fiks Anda akan mudah memetik hikmah dari tanaman berbatang tunggal ini.

Pembaca yang budiman, mari kita lihat filosofi pohon pisang dari sudut pandang Islam yang mengajarkan nilai-nilai tentang ikhtiar, kemandirian, dan memberikan manfaat tanpa dendam.

Memberikan manfaat tanpa dendam dimaksud adalah pohonnya tidak berduri atau berpotensi melukai, getah beningnya tidak membuat kulit kita gatal gatal.

Pernahkah melihat pohon pisang yang tidak menyerah? Dia akan tetap tumbuh meski di tanah gersang sekalipun, adapun subur atau kerdilnya kembali kepada kita penanamnya.

Meski memiliki keterbatasan dan terus berusaha memberi manfaat, seperti buah dan daun yang berguna bagi makhluk lain, menunjukkan keteguhan dan keyakinan atas pertolongan Allah.

Jika ditebang pada masa sebekum berbuah, serta merta akan muncul batang baru dari bagian tengah batang atau jika disakiti, pohon pisang ikhlas dan tidak mewariskan dendam, tetapi tetap berupaya meninggalkan generasi yang bermanfaat dan melanjutkan kebaikan.

Tidak berhenti bertunas pada bagian batang bawahnya, kalau toh mati batang induknya lalu membusuk justru di kondisi itu dia akan menutrisi tunasnya. Mungkin dalam konteks kehidupan manusia, dapat dimaknai, tidak berhenti mengkader sampai tutup usia.

Filosofi ini juga mengingatkan kita untuk berjuang secara sungguh-sungguh dan tidak berputus asa, serta selalu berbuat baik di mana saja sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kebaikan yang tak lekang oleh waktu.

Secara lebih luas, dalam pandangan Islam, pohon pisang juga menjadi simbol kemudahan dan keberlimpahan nikmat, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Waqi’ah ayat ke- 29.

Yang menampilkan pisang sebagai buah yang mudah dinikmati dan selalu tersedia, melambangkan kemurahan Allah dalam memberikan kenikmatan bagi orang beriman.

Jika mengacu tafsir ayat yang menyebut pisang dalam Surat Al-Waqi’ah ayat 29 berbicara tentang kenikmatan surga yang diberikan kepada orang-orang beriman.

Ayat tersebut menggambarkan pohon pisang yang “bersusun-susun” (ṭalḥin manḍūd), yang berarti buah pisang yang berderet rapi, tertata indah dalam tandan-tandannya, dan mudah dijangkau tanpa kesulitan.

Ini melambangkan kemudahan, keindahan, dan keberlimpahan nikmat di surga, di mana buah pisang selalu tersedia dan dalam kondisi terbaik setiap saat tanpa ada musim tertentu seperti di dunia.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyebutan pisang sebagai salah satu buah surga sangat spesifik dan simbolis karena pisang adalah buah yang mudah dinikmati—dapat langsung disantap tanpa alat khusus, kaya nutrisi dan memberikan energi.

Pembaca, manusia akan terbantu dalam menjaga imunitasnya dengan banyak mengonsumsi pisang. Di dalamnya terdapat gula alami, kandungan B6 dapat membantu pembentukan hormon serotonin, mendukung penyembuhan luka dan anemia dan masih banyak lagi ‘kebaikan’ pisang dalam hidup manusia. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *