Agar Kader Tetap Berorientasi kepada Visi

0
20

HidayatullahSulbar.Com, Motivasi – Setiap organisasi yang ingin bertahan lintas generasi harus mampu melakukan regenerasi tanpa kehilangan jati diri.

Karena itu, rejuvenasi organisasi perlu ditempatkan sebagai proses transisi dan alih generasi kepemimpinan yang mempertemukan pengalaman kader senior dengan energi dan gagasan kader muda secara proporsional.

Kader lama mewariskan pengalaman dan nilai perjuangan, sementara kader muda membawa semangat serta kemampuan membaca perubahan zaman. Regenerasi bukan sekadar pergantian orang, tetapi pewarisan visi dan nilai perjuangan.

Dalam konteks Hidayatullah, akselerasi sebagai organisasi kemasyarakatan Islam di tingkat kabupaten/kota tidak harus selalu ditandai dengan pendirian amal usaha.

Amal usaha adalah instrumen, bukan tujuan. Yang lebih utama adalah memperkuat kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan lembaga perjuangan (Harakah Islamiyah) di tengah masyarakat.

Karena itu, seluruh struktur organisasi, organisasi pendukung, amal usaha, dan badan usaha perlu terus mendapatkan pencerahan dan penguatan Jatidiri Hidayatullah.

Jangan sampai kader lebih mengenal struktur daripada visi, lebih sibuk mengelola lembaga daripada menggerakkan dakwah, atau memandang instrumen sebagai tujuan.

Kesadaran sebagai bagian dari sebuah gerakan perjuangan harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas.

Hal yang sama berlaku dalam memandang jabatan struktural. Jabatan harus diposisikan sebagai peran pengabdian, bukan tangga kekuasaan atau prestise. Dengan cara pandang ini, pergantian jabatan tidak menjadi perebutan, melainkan bagian dari kesinambungan perjuangan. Ketika seseorang tidak lagi memegang jabatan, pengabdiannya tidak boleh berhenti.

Penguatan gerakan juga perlu ditopang dengan keberadaan sekretariat DPD dan DPC di pusat kota, terpisah dari amal usaha.

Sekretariat atau kantor bukan sekadar alamat administratif, tetapi harus menjadi rumah dan pusat gerakan dakwah: tempat kader bertemu, masyarakat mendapatkan pelayanan dakwah, dan berbagai gagasan perjuangan dikembangkan.

Pada akhirnya, tantangan Hidayatullah bukan hanya bagaimana menjadi organisasi yang besar, tetapi bagaimana tetap memiliki arah ketika generasi berganti dan zaman berubah. Rejuvenasi harus menjadi pewarisan, bukan pemutusan.

Amal usaha, badan usaha, struktur organisasi harusnya tetap menjadi instrumen, bukan tujuan. Jabatan harus menjadi amanah, bukan kebanggaan. Dan sekretariat harus menjadi pusat gerakan, bukan sekadar kantor.

Sebab kader yang memahami mengapa perjuangan ini harus diteruskan, akan mampu menemukan cara untuk menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Begitulah, agar kader tidak disorientasi visi. (bash)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini