Tantangan Berpuasa di Era Digital
HidayatullahSulbar.Com, Dakwah – Secara etimologi, pengertian puasa, shaum ataupun shiyam, yakni “al-Imsaku ‘an al-Syai” (الإمساك عن الشيء) yaitu mengekang atau menahan diri dari sesuatu.
Misalnya menahan diri dari makan, minum, bercampur dengan istri, berbicara dan sebagainya.
Dalam pengertian yang lain, istilah al-shaum atau puasa memiliki arti yaitu ترك الطعام والشرب والنكاح والكلام yaitu meninggalkan makan, minum, bercampur dengan isteri, dan meninggalkan perkataan.
Berkata Sufyan bin Uyaynah:
الصوم هو الصبر يصبر الإنسان على الطعام والشرب والنكاح
“Puasa adalah melatih kesabaran, manusia bersikap sabar (menahan diri) dari makan, minum, berhubungan seksual,”.
Maka berpuasa di era digital adalah menjaga fokus dan kesucian ibadah dari distraksi konten negatif, FOMO (Fear of Missing Out), dan kecanduan media sosial yang mengurangi produktivitas.
“Nafsu digital” seperti scrolling berlebihan dan penyebaran informasi palsu berpotensi merusak pahala, sehingga diperlukan digital detox dan kebijaksanaan dalam mengonsumsi informasi.
Ringkasnya, menahan dari semua hal yang dapat menimbulkan keburukan. Tindakan sadar untuk mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat elektronik (smartphone, komputer, media sosial) selama jangka waktu tertentu.
Dengan langkah itu secara automatis dapat mengurangi stres, mengatasi kecanduan teknologi, meningkatkan kesehatan mental, serta membangun kembali interaksi sosial di dunia nyata.
Berikut beberapa tantangan puasa di era mondial atau era yang menggunakan jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer:
Gangguan Fokus Ibadah (Distractions): Media sosial (TikTok, Instagram, YouTube) sering kali membuat lalai, mengurangi waktu untuk tadarus, dzikir, atau istirahat.
FOMO dan Konten Negatif: Kecenderungan mengikuti tren (FOMO) dan paparan konten yang memancing emosi (perdebatan, gunjingan, atau konten tidak layak) dapat membatalkan esensi puasa.
Bahaya Lisan dan Jari: Di era digital, menjaga lisan meluas menjadi menjaga jari dari mengetik/menyebarkan hoaks, konten cyberbullying, atau hal sia-sia yang mengurangi pahala.
Mengurangi Produktivitas: Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah produktif sering habis untuk konsumsi konten daring.
Pamer Ibadah (Riya’): Tekanan untuk menunjukkan citra diri yang religius di media sosial dapat mengalihkan niat tulus beribadah.
Adapun strategi yang dapat kita pakai dalam menghadapi tantangan itu setidaknya ada beberapahal sebagai berikut :
Melakukan digital detox : Mengurangi waktu scrolling dan menggunakan media sosial hanya untuk hal bermanfaat.
Selektif Konten: Mengikuti akun-akun kajian atau konten edukatif.
Mengatur Waktu: Membatasi waktu penggunaan gadget dan fokus pada ibadah, terutama pada jam-jam utama (seperti menjelang berbuka).
Tabayyun: Selalu klarifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
Teknologi, jika dikelola dengan bijak, dapat menjadi alat untuk mempermudah ibadah seperti aplikasi pengingat waktu dan ceramah daring.
Karena sejatinya telepon pintar kita adalah sebuah benda yang bebas nilai atau free value, bisa bermanfaat dan dapat merugikan tergantung usernya. (bash)

