Puasa di Era Digital  

HidayatullahSulbar.Com, Opini – Puasa selalu mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi berat: menahan diri. Dahulu orang berjuang menahan lapar dan haus.

Kini, di era digital, tantangannya bertambah—menahan diri dari notifikasi yang tak ada habisnya. Kadang terasa ironis: tangan belum sempat mengambil air untuk berbuka, tetapi sudah lebih dulu membuka ponsel.

Padahal inti puasa bukan sekadar menahan makan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Rasulullah Muhammad juga mengingatkan melalui hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dicatat oleh Al-Bukhari:

“مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.”

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Jika di masa lalu lisan menjadi ujian, hari ini mungkin jempol yang lebih dulu tergelincir—terutama saat berkomentar di media sosial. Sekali emosi, komentar meluncur lebih cepat daripada azan magrib.

Fakta empiris menunjukkan tantangan itu nyata. Laporan Digital 2024 dari We Are Social dan Meltwater mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet.

Artinya, selama Ramadan, godaan bukan hanya aroma gorengan di dapur, tetapi juga linimasa yang kadang lebih panas dari sambal.

Puasa di era digital akhirnya mengajarkan disiplin yang lebih luas yakni menahan lapar, menahan emosi, dan mungkin—yang paling sulit—menahan diri untuk tidak membuka ponsel setiap lima menit. Jika berhasil, puasa bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menata ulang hubungan kita dengan teknologi.

Barangkali di situlah hikmahnya, ketika notifikasi mulai kita batasi, hati justru menjadi lebih sunyi—dan dalam kesunyian itu, manusia lebih mudah mendengar panggilan yang paling penting, panggilan untuk kembali kepada Allah. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *