Pelajaran dari Kejatuhan Nokia untuk Kader Hidayatullah

HidayatullahSulbar.Com, Mamuju – Beberapa tahun lalu, dunia menyaksikan bagaimana sebuah raksasa teknologi bernama Nokia jatuh dari puncak kejayaannya. Perusahaan yang pernah menguasai lebih dari 40% pasar ponsel dunia itu runtuh hanya dalam beberapa tahun. Padahal, Nokia tidak melakukan kesalahan fatal — mereka hanya gagal beradaptasi dengan perubahan. Dalam konferensi pers terakhir sebelum diakuisisi oleh Microsoft, CEO Nokia mengatakan kalimat yang kini menjadi pelajaran berharga:

“We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost.”
(Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi entah bagaimana, kami kalah.)

Kalimat ini mengguncang banyak orang. Ia mengajarkan bahwa dalam dunia yang terus berubah, tidak cukup hanya baik dan benar — kita juga harus cepat dan adaptif.

1. Stagnasi adalah Awal Kemunduran

Nokia pernah menjadi simbol inovasi, namun ketika dunia berubah ke arah smartphone berbasis sistem operasi modern, mereka terlalu lama bertahan dengan cara lama. Mereka merasa nyaman dengan kesuksesan masa lalu. Akibatnya, ketika perubahan datang, mereka tidak siap.

Begitu pula dalam dunia dakwah dan organisasi. Hidayatullah memiliki manhaj yang kokoh, sistem yang teruji, dan jamaah yang solid. Namun, jika kader dan pengurus merasa “sudah cukup baik,” maka sesungguhnya itu awal kemunduran. Dakwah membutuhkan pembaruan terus-menerus — baik dalam strategi, metode, maupun pola manajemen.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka ia rugi.”
(HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini mengingatkan bahwa stagnasi adalah bentuk kekalahan yang tak terasa.

2. Nilai Tidak Boleh Berubah, Tapi Cara Harus Terus Diperbarui

Nokia gagal bukan karena produknya jelek, tetapi karena tidak mengikuti perubahan perilaku manusia. Sementara Apple dan Samsung berinovasi dengan sistem operasi terbuka, Nokia masih mempertahankan Symbian yang kaku dan tertutup.

Dari sinilah kader Hidayatullah bisa belajar. Nilai dan prinsip Islam adalah tetap dan abadi — seperti tauhid, ukhuwah, dan dakwah ilallah. Tetapi cara menyampaikan dakwah, mengelola kader, membangun ekonomi, dan mendidik umat harus selalu menyesuaikan zaman.

Manhaj tidak boleh berubah, tapi metodologi harus berkembang.
Dakwah di era digital harus memanfaatkan teknologi, media sosial, dan sistem manajemen modern, tanpa kehilangan ruh tarbiyah dan keteladanan.

3. Dari “Gagal Berubah” ke “Terus Bertumbuh”

Kejatuhan Nokia menjadi cermin bahwa organisasi besar pun bisa tumbang bila kehilangan sense of urgency. Di sinilah pentingnya semangat mujaddid (pembaharu) dalam setiap lini gerakan. Hidayatullah harus selalu memiliki kader-kader yang berpikir visioner, inovatif, dan profesional — bukan sekadar pelaksana, tetapi penggerak perubahan.

Hidayatullah tidak boleh menjadi “organisasi mapan yang stagnan,” tetapi gerakan profetik yang dinamis — menegakkan nilai-nilai kenabian dengan cara-cara terbaik sesuai zaman. Dakwah hari ini bukan hanya di mimbar, tapi juga di dunia maya, lembaga pendidikan, ekonomi umat, dan layanan sosial masyarakat.

4. Profesionalisme Adalah Bentuk Ibadah

Nokia kehilangan keunggulan karena menurunkan standar kualitas. Di sisi lain, organisasi dakwah bisa kehilangan kepercayaan umat bila tidak profesional dalam mengelola program. Padahal, Islam mengajarkan:

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan pekerjaan, ia menyempurnakannya.”
(HR. Al-Baihaqi)

Maka, setiap kader Hidayatullah perlu menanamkan bahwa profesionalisme adalah bagian dari ibadah.
Menulis laporan dengan rapi, hadir tepat waktu, menjaga komunikasi antar departemen, serta menepati janji bukan sekadar tugas administratif, tapi bukti integritas kader dakwah.

5. Dari Pelajaran ke Tindakan

Kita tidak ingin menjadi seperti Nokia — merasa tidak salah, tapi akhirnya kalah. Maka setiap pengurus, dari DPW hingga DPD, harus menjadikan momen ini sebagai refleksi:

  • Apakah sistem kita masih relevan dengan tantangan zaman?

  • Apakah komunikasi antar lembaga sudah efektif?

  • Apakah kader muda diberi ruang untuk berinovasi?

  • Apakah amal usaha kita dikelola secara profesional dan transparan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah kita akan berbenah atau tertinggal.

Penutup

Hidayatullah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan dakwah peradaban. Ia harus belajar dari masa lalu, tanggap terhadap masa kini, dan siap memimpin masa depan. Nokia kehilangan kejayaannya karena gagal berubah.
Namun Hidayatullah akan tetap jaya — jika terus berbenah tanpa kehilangan arah. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *