Menyambut Semarak Munas VI Hidayatullah – Dua Bulan Menjelang Momentum Besar Umat

Menanti Peristiwa Besar di Jakarta

Hanya tinggal dua bulan lagi, seluruh keluarga besar Hidayatullah akan menyaksikan sebuah peristiwa akbar: Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, yang insya Allah digelar pada 20–23 Oktober di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Munas ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, tetapi sebuah momentum yang sarat makna. Ribuan kader dari Sabang sampai Merauke akan berkumpul, menyatukan hati, menyamakan langkah, dan meneguhkan kembali komitmen membangun peradaban Islam di bumi Indonesia.

Semarak yang Mulai Terasa

Meski Munas VI baru akan dimulai dua bulan lagi, semaraknya sudah mulai terasa. Di berbagai daerah, kader dan simpatisan turut memeriahkan dengan memasang spanduk ucapan selamat, membagikan posting di media sosial, hingga menyelenggarakan event lokal dengan menyertakan logo Munas VI.

Tak hanya itu, panitia pusat telah menggelar Kick Off Munas pada bulan Juni lalu secara hybrid, menghadirkan semangat baru di tengah kader, dengan jargon yang sederhana namun penuh makna: “1 kader 1 HP untuk menyemarakkan Munas”.

Semarak ini adalah cermin dari gairah dakwah yang terus menyala. Ia membuktikan bahwa Munas bukan hanya milik pengurus pusat, tetapi milik seluruh kader, jamaah, dan masyarakat yang bersentuhan dengan amal usaha Hidayatullah.

Mengapa Munas VI Begitu Penting?

Munas VI Hidayatullah adalah ajang yang akan menentukan arah perjuangan organisasi lima tahun ke depan. Beberapa alasan mengapa momentum ini sangat penting:

  1. Meneguhkan visi peradaban Islam yang menjadi ruh perjuangan Hidayatullah.

  2. Menyatukan seluruh jaringan, dari DPP hingga DPC, agar bergerak serempak.

  3. Melahirkan kebijakan strategis di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

  4. Mengokohkan kepemimpinan kolektif-kolegial yang solid, amanah, dan profesional.

  5. Menguatkan kontribusi Hidayatullah untuk bangsa, menjawab tantangan zaman dengan solusi Qur’ani.

Dengan latar belakang ini, tidak berlebihan bila Munas VI disebut sebagai titik balik perjuangan untuk melangkah lebih jauh.

Nuansa Persiapan yang Menyentuh

Dua bulan menjelang Munas, berbagai persiapan terus dilakukan. Panitia pusat bekerja siang malam memastikan acara berjalan sukses, mulai dari teknis penyambutan tamu, penyusunan agenda, hingga publikasi di media nasional.

Sementara itu, pengurus wilayah dan daerah pun tidak tinggal diam. Mereka menggalang doa, mengadakan sosialisasi, dan mengajak masyarakat luas untuk turut menyemarakkan. Di pesantren dan sekolah-sekolah Hidayatullah, anak-anak didik dilibatkan dalam doa bersama agar Munas VI mendapat keberkahan.

Semua persiapan ini tidak hanya soal teknis acara, tetapi juga menjadi proses penyatuan hati. Dari Mamuju hingga Merauke, dari Sumatera hingga Maluku, doa yang sama dipanjatkan: “Semoga Munas VI Hidayatullah sukses, diberkahi Allah, dan membawa manfaat besar untuk umat dan bangsa.”

Harapan-Harapan yang Tumbuh

Setiap kader menaruh harapan pada Munas VI. Harapan itu sederhana, tetapi bermakna dalam:

  • Agar lahir program-program yang lebih membumi dan aplikatif.

  • Agar amal usaha pendidikan semakin kokoh dan profesional.

  • Agar dakwah digital semakin dikembangkan, menjangkau generasi muda.

  • Agar pemberdayaan ekonomi umat semakin nyata terasa.

  • Agar ukhuwah Islamiyah semakin kuat di tengah perbedaan.

Seorang kader dari Sulawesi Barat berkata, “Munas ini bukan hanya untuk memilih pemimpin, tapi untuk menyatukan hati. Kami ingin pulang membawa semangat baru, bukan hanya keputusan di atas kertas.”

Kata-kata itu menggambarkan betapa Munas VI ditunggu bukan karena seremoninya, melainkan ruh persaudaraan dan energi perjuangan yang dibawanya.

Semarak yang Harus Kita Ikutkan

Sosialisasi Munas VI mengingatkan kita semua untuk ikut ambil bagian. Tidak semua bisa hadir di Jakarta, tetapi semua bisa menyemarakkan.

Cara-cara sederhana yang bisa dilakukan kader dan simpatisan di daerah antara lain:

  • Memasang spanduk ucapan selamat di lingkungan sekitar.

  • Membuat konten kreatif di media sosial dengan menyertakan logo Munas VI.

  • Mengadakan pengajian atau kegiatan sosial atas nama penyambutan Munas.

  • Mengirim doa dan dukungan kepada panitia pusat.

Dengan cara itu, semarak Munas bukan hanya terasa di Jakarta, tetapi di seluruh penjuru nusantara.

Munas dalam Konteks Dakwah dan Bangsa

Lebih dari sekadar agenda internal, Munas VI adalah kontribusi nyata Hidayatullah untuk bangsa. Dalam sidang-sidangnya nanti, akan dirumuskan langkah dakwah yang responsif terhadap zaman, program pendidikan yang lebih maju, serta gerakan sosial-ekonomi yang memberdayakan umat.

Di saat bangsa ini berjuang menghadapi berbagai tantangan, Hidayatullah ingin tampil sebagai mitra strategis bangsa. Menyemarakkan Munas berarti juga menyemarakkan semangat kebangsaan.

Menyambut dengan Doa dan Cinta

Tinggal dua bulan lagi menuju Munas VI. Mari kita sambut dengan doa, cinta, dan semangat. Setiap doa yang terucap, setiap ucapan selamat yang terpajang, setiap konten yang tersebar di media sosial adalah bagian dari amal jariyah.

Karena Munas bukan hanya milik pengurus, tetapi milik kita semua. Ia adalah pesta ukhuwah, ruang untuk meneguhkan kembali siapa kita, apa misi kita, dan kemana arah perjuangan ini akan dibawa.

Semarak Munas VI Hidayatullah dua bulan menjelang pelaksanaannya sudah terasa di seluruh pelosok negeri. Ia menjadi momentum menyatukan langkah, meneguhkan visi, dan mengobarkan semangat dakwah.

Mari jadikan Munas VI bukan hanya peristiwa besar di Jakarta, tetapi gema yang menggetarkan hati di setiap daerah. Dengan doa, dukungan, dan partisipasi kita semua, insya Allah Munas ini akan sukses, penuh berkah, dan membawa manfaat besar bagi umat dan bangsa. */Massiara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *