Kita Tua Sebelum Waktunya
Catatan Rejuvinasi untuk Kader Hidayatullah Menyambut Munas VI
HidayatullahSulbar.Com, Mamuju — Ada yang terasa mengganjal di dada kita akhir-akhir ini. Bukan karena perjuangan berhenti, tetapi karena semangat juang itu perlahan kehilangan denyut mudanya. Kita masih berbicara tentang dakwah, tarbiyah, dan kejayaan Islam… namun wajah-wajah kita, bahasa tubuh, hingga gagasan-gagasan kita, tampak mulai menua sebelum waktunya.
Kehilangan Energi Muda Dakwah
Dulu, kita dikenal karena satu hal: energi. Energi yang memindahkan gunung, menyeberangi laut, dan menembus kampung terpencil. Energi yang membuat kita tak kenal lelah, karena dakwah adalah napas yang memberi hidup.
Namun kini, entah sejak kapan, napas itu mulai pendek, langkah terasa berat, dan api perjuangan meredup oleh rutinitas.
“Kita tidak kehilangan kader, kita hanya kehilangan bara.”
Apakah kita terlalu nyaman dengan struktur dan jabatan? Terlalu sibuk dengan laporan dan program, hingga lupa menyalakan kembali ruh dakwah yang dulu membakar dada kita?
Makna Rejuvinasi Sejati
Rejuvinasi bukan sekadar mengganti orang, melainkan menyegarkan ruh organisasi agar tidak membatu. Ia adalah panggilan untuk menghidupkan kembali jiwa muda dakwah — keberanian mengguncang kebiasaan lama, menolak kemapanan, dan berijtihad mencari cara baru dalam menegakkan nilai-nilai Islam.
Kita harus berani bercermin dan berkata jujur:
“Ada yang harus kita ubah.”
Perubahan itu bukan hanya pada generasi, tapi juga pada cara berpikir, cara memimpin, dan cara menyentuh umat.
Munas VI: Momentum Menyalakan Bara Baru
Munas VI Hidayatullah bukan sekadar forum memilih pengurus. Ia adalah kesempatan untuk menyuntikkan oksigen segar ke dalam nadi gerakan dakwah.
Agar struktur tidak menjadi beban, sistem tidak menjadi rutinitas, dan generasi muda tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak yang hidup dan berdaya.
Bagi para kader senior, pengurus lama, dan saksi sejarah gerakan ini—rejuvinasi menuntut kebesaran hati.
Memberi ruang bagi yang muda bukan tanda melemah, tapi tanda kebijaksanaan.
Menyalakan Kembali Api Dakwah
Kita menua sebelum waktunya karena terlalu lama memikul beban tanpa berganti langkah. Maka rejuvinasi bukan tentang menggantikan yang tua, melainkan menanamkan semangat muda ke dalam tubuh yang sudah matang.
Sebab dakwah ini bukan tentang siapa yang memulai,
tetapi siapa yang terus menyala.
(Massiara)

