Hujan Ashar di Jumat Penuh Berkah, Ketua MUI Mamuju Ingatkan Hakikat Puasa Menjelang Ramadhan

HidayatullahSulbar.Com, Mamuju — Hujan yang turun pada waktu ashar di hari Jumat menjadi pertanda keberkahan tersendiri. Momentum ini dimanfaatkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mamuju, KH Namru Asdar, S.Ag., untuk menyampaikan tausiah menjelang datangnya bulan suci Ramadhan di Masjid Al-Walidain, Jumat (30/01/2026).

Dalam tausiahnya, KH Namru Asdar mengajak kaum muslimin menyambut Ramadhan dengan kesiapan iman dan pemahaman yang benar tentang hakikat puasa.

Ramadhan, menurut beliau, bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bulan latihan ruhani bagi orang-orang beriman.

Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
_“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”_
(QS. Al-Baqarah: 183)

*Puasa Ideal dan Tazkiyatun Nufush*

KH Namru menjelaskan bahwa ibadah puasa telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu dengan berbagai bentuk. Namun, puasa yang diajarkan kepada umat Islam adalah puasa dengan tata cara yang paling ideal, yang bertujuan untuk tazkiyatun nufush (penyucian jiwa).

Beliau juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad ﷺ:
صُومُوا تَصِحُّوا
_“Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.”_

Namun realitanya, kata beliau, tidak sedikit orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini sesuai dengan peringatan Rasulullah ﷺ:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
_“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)_

*Niat dan Rukun Puasa*

Dalam aspek fiqih, KH Namru menegaskan pentingnya niat puasa. Niat dapat dilakukan setiap malam sebagaimana pendapat Imam Syafi’i, atau boleh juga berniat satu kali untuk sebulan penuh saat pemerintah mengumumkan masuknya Ramadhan.

Beliau menjelaskan bahwa puasa memiliki dua rukun utama:
1. Niat
2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari

Namun, rukun yang sedikit ini tidak berarti puasa bisa dijalankan secara asal-asalan.
Puasa Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga

KH Namru mengingatkan bahwa puasa sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala hal yang merusak hati, seperti ghibah, bullying, dan perilaku menyakiti orang lain.

Di era digital, beliau menyoroti kebiasaan menulis status, komentar, atau unggahan yang menyinggung, memfitnah, dan melanggar etika. Semua itu, menurut beliau, dapat merusak kualitas puasa.

Termasuk pula peringatan agar tidak berbuka dengan makanan yang bukan haknya, serta kebiasaan “balas dendam” saat berbuka puasa hingga berlebihan. Ironisnya, tidak sedikit orang yang justru jatuh sakit di bulan Ramadhan karena salah memahami puasa.

*Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali*

KH Namru Asdar kemudian mengutip pembagian puasa menurut Imam Al-Ghazali:

1. Puasa orang awam, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri.
2. Puasa orang khusus, yakni menahan seluruh anggota badan dari perbuatan sia-sia dan maksiat.
3. Puasa orang yang lebih khusus lagi, yaitu menahan hati dan pikiran dari hal-hal keduniaan, sehingga fokus sepenuhnya kepada Allah SWT. Beliau mencontohkan, orang yang berada pada tingkatan ini tidak lagi disibukkan oleh urusan dunia saat berpuasa, baik siang maupun malam.

*I’tikaf Menjaga Kualitas Puasa*

Untuk menjaga kualitas puasa, khususnya pada tingkatan yang lebih tinggi, KH Namru menekankan pentingnya i’tikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, mulai malam ke-21 hingga akhir bulan.

“I’tikaf adalah sarana menjaga fokus hati agar puasa tidak hanya sah secara fiqih, tetapi juga bernilai tinggi di sisi Allah,” pungkasnya.

Tausiah ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi proses penyucian diri menuju ketakwaan.

Semoga keberkahan Ramadhan benar-benar meliputi umat Islam, sebagaimana hujan yang turun di waktu ashar pada hari Jumat penuh rahmat itu. (Massiara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *