Menjadi Keluarga (Kader) Tangguh 

HIDAYATULLAHSULBAR.COM, Parenting – Menjadi keluarga kader tangguh adalah sebuah visi keluarga yang kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan dalam bertugas dan hidup melalui ketangguhan. Tangguh, setidaknya di tiga aspek utama: spiritualitas, finansial, dan emosional.

Ketangguhan ini bukan hanya sekedar tindakan preventif semata , tapi juga menciptakan fondasi keluarga yang kokoh dan harmonis.

Ketangguhan Spiritualitas

Ketangguhan spiritual menjadi dasar utama karena ia akan memberi makna, harapan, dan rumah tangga yang kokoh dalam menghadapi ujian hidup.

Bagi kader Hidayatullah, khususnya, spiritualitas menjadi dasar di semua lini termasuk dasar berumahtangga, fondasi terkokoh adalah spiritual sebagaimana yang sudah terformulasikan melalui gerakan nawafil Hidayatullah atau GNH.

Keluarga yang di dalamnya aktif menjalankan tahajjud setiap malam, tadarrus minimal satu jus dalam sehari semalam, sedekah harian, sholat wajib berjamaah di masjid, wirid pagi dan petang serta dakwah fardhiyah.

Mengaplikasikannya tentu tidak semudah menulisnya, butuh perencanaan dan komitmen kuat dalam anggota keluarga.

Keluarga yang tangguh secara spiritual, biasanya, akan mudah membangun komunikasi dengan nilai-nilai keimanan dan moral yang kuat.

Hal ini membentuk karakter yang sabar, bersyukur, dan saling mendukung. Melalui rutinitas kecil tapi rutin seperti membuat halaqah Quran, refleksi diri, dan pengajaran nilai-nilai adab, keluarga menjadi satu kesatuan yang kokoh dari dalam.

Ketangguhan Finansial

Aspek finansial adalah pondasi nyata yang seringkali diuji dalam kehidupan keluarga kader. Keluarga kader tangguh adalah yang terampil mengelola keuangan dengan bijak, merencanakan masa depan, dan berinvestasi dalam pendidikan serta keterampilan.

Anda tidak harus memaksakan diri menguasai strategi produksi dan faham kecenderungan pasarnya kalau ternyata feeling anda lebih dekat dengan sektor pertanian.

Cukup buat secara matang perencanaan kerja usaha perkebunan berupa pembukaan lahan, pengendalian hama tanaman, kemitraan dengan masyarakat sekitar, dan rencana pengolahan hasil perkebunan.

Sebagaimana jika anda ternyata lebih suka dan sudah berjalanan usaha kecil kecilan jualan makanan olahan sendiri atau reseller. Tekuni dengan ulet, atur keuangan agar langgeng dan berkembang dan satu lagi, hindari hidup boros.

Karena ketangguhan finansial berarti mampu mengatasi tekanan ekonomi tanpa panik, memiliki tabungan darurat, serta kebiasaan hidup hemat dan produktif. Dengan ketangguhan ini, keluarga mampu meminimalisir stres dan menciptakan lingkungan kondusif untuk tumbuh kembang anggota keluarga.

Rutinitas atau bisnis pribadi dalam pandangan berorganisasi dan atau sebagai pengurus tentu boleh saja selagi tidak menggangu tugas pokok dan fungsinya.

Ketangguhan Emosional 

Ketangguhan emosional menjadi perekat hubungan antar anggota keluarga. Tangguh emosional juga dapt diartikan sebagai keluarga yang mampu mengelola stres, konflik, dan tekanan luar dengan komunikasi terbuka dan penuh rasa empati.

Mereka membangun ikatan kuat berdasarkan kepercayaan dan pengertian, sehingga mampu menumbuhkan rasa aman dan bahagia. Dalam istilah lokal kita mengenal istilah ‘sipakalaqbi’ atau satu sama lain saling mengedepankan adab dalam bermsayarakat.

Ketangguhan ini juga menjamin keluarga tidak mudah terpecah oleh perbedaan, melainkan saling menguatkan dalam setiap kondisi.

Menjadi Keluarga Kader Tangguh berarti membangun ketahanan holistik, dengan melakukan pendekatan atau mempertimbangkan seluruh aspek spiritual, finansial dan emosional.

Tidak cukup hanya menonjolkan satu sisi saja. Dalam pendekatan holistik, dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan memengaruhi satu sama lain, sehingga penting untuk memahami keseluruhan konteks dan hubungan antar bagiannya.

Dalam konteks keluarga tangguh dalam menjalankan amanah sebagai dai di pedalaman, adalah keluarga yang berdaya ekonominya, sukses ibadahnya dan disukai masyarakat karena komunikasinya menyenangkan dan mencerahkan.

Juga harus selalu menguatkan spiritualitas, menata finansial dengan bijak, dan memelihara kesehatan emosional keluarga. Ketiga dimensi ini harus berjalan beriringan agar keluarga tidak hanya bertahan tetapi berkembang, menjadi teladan, dan siap melahirkan generasi penerus yang tangguh di segala aspek kehidupan.

Dengan menguatkan tiga aspek penting tersebut, sebagaimana pengalaman dai dai senior, selain tangguh dainya juga menjadi faktor kompatibel sehatnya misi organisasi. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *