Menjaga Ibadah Nawafil di luar Ramadhan

HIDAYATULLAHSULBAR.COM, Tarbiyah. Selain Ramadhan kita mengenal ada beberapa jenis puasa sunnah, antara lain: 1. Puasa enam hari pada bulan Syawal, 2. Puasa Daud, yang dalam pelaksanaannya dengan sehari berpuasa lalu sehari tidak.3. Puasa senin kamis, 4. Puasa pada tanggal 9 Dzulhijah disebut juga puasa Arofah, 5. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, 6. Puasa pada ayyamul bid tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya tentu ini pada penaggalan hijriyah.

Bahkan dalam bulan Syawal ini masih terasa suasana Ramadhan, baik suasana ibadah bahkan dalam hal beruamalah. Pada sore hari jelang berbuka terlihat tradisi saling memberi takjil atau makan untuk berbuka. Karena momentum Ramadhan menjadikan kita lebih taat beribadah baik yang wajib maupun ibadah sunnah.

Tentu saja kita tidak ingin kualitas ibadah yang terus membaik pada Ramadhan itu akan stagnan atau justeru menurun di bulan bulan setelahnya. Sebagai kader yang sudah rutin melakukan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) sebagai rutinitas kesehariannya mennjadi ciri khas.

Pada prinsipnya, ibadah nawafil dimaksud seperti Tadarrus 1 juz dalam sehari, shalat berjamaah 5 waktu dan shalat sunnah rawatib, sholat tahajjud setiap malam, wirid pagi dan petang, infaq setiap hari dan berdakwah.

Berdakwah sendiri tidak diharuskan pada metode ceramah di mimbar mimbar masjid, bisa saja melalui silaturrahmi ke masyarakat secara langsung baik di rumah rumah ataupun media dakwah lain. Meski tetap mengacu pada pentingnya berdakwah dengan verbal yang makruf sebagaimana yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW.

Ibadah nawafil idealnya adalah ibadah yang melekat pada setiap pribadi muslim dan Ramadhan adalah momentum terbaik dalam menguatkan semua item tersebut. Memiliki spirit yang tidak sama dengan bulan lainnya.

Sukses dalam ibadah sudah semestinya harus memiliki target target yang harus dicapai dan direncanakan sejak dini, membaca al-Qur’an sendiri butuh persiapan yang baik, adab tadarrus harus dipenuhi, dalam keadaan belum batal wudhunya dan dibutuhkan suasana yang baik seperti salah satunya menggunakan mushaf yang mudah dibaca.

Demikian juga halnya sedekah, meski harus didasari niat ihlas dan menjaganya agar terhindar dari dosa riya dengan tidak memamerkannya, justru akan lebih bagus lagi jika bersedekah dengan jumlah besar dan memviralkan dengan tujuan agar menginspirasi orang banyak untuk ikut melakukannya.

Maka bersedekah dengan diam diam agar terhindar dari bahaya riya adalah baik sebagaimana memviralkan sedekah bertujuan agar menyemangati orang lain untuk gemar bersedekah juga baik. Yang naif jika diam diam tidak pernah sedekah.

Rutinnya tarawih dan tahajjud dalam Ramadhan mestinya juga menjadi rutinnya ibadah tersebut di luar Ramadhan, Nabiullah Muhammad dikenal gemar bersedekah dan lebih banyak lagi sedekahnya dalam Ramadhan, sebagaimana senangnya kita sholat berjamaah lima waktu di masjid maka kesenangan itu harus diteruskan meski sudah tidak dalam Ramadhan. Wallahu a’lam. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×