[Khutbah Jum’at] Memilih Pemimpin yang Berkualitas

Dr. H. Nashirul Haq, MA

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Kita memuji Allah atas keagungan-Nya dan mensyukuri segala nikmatnya. Termasuk suasana yang tenang, aman dan damai menjelang Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum beberapa hari ke depan.

Mari kita sambut pesta demokrasi tersebut dengan suasana hati yang menyenangkan dan penuh kegembiraan.

Oleh karenanya, segala macam bentuk gangguan, halangan, dan rintangan harus dicegah dan dihindari.

Pergiliran kepemimpinan adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)“ (QS. Ali Imran: 140)

Pemilu merupakan proses pengalihan kekuasaan dan kepemimpinan nasional. Kita ingin setiap pergantian kekuasaan terlaksana dengan jujur, adil, dan damai. Sebagai elemen bangsa terbesar, wajib bagi kita ummat Islam untuk menyukseskannya.

Perbedaan partai yang kita pilih hendaknya tidak menimbulkan pertentangan, permusuhan, apalagi dendam. Karenanya, hindari provokasi, jauhkan adu domba, dan politik pecah belah.

Kita tetap harus menjamin bahwa perbedaan itu tidak membahayakan ketenangan dan ketentraman masyarakat, asal disertai argumen yang kuat dan benar serta dialog yang baik dan terbuka.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Umat Islam harus pro aktif, kita tidak boleh berpangku tangan. Ketika menyaksikan kecurangan, pemalsuan, dan penyimpangan.

Kita harus berani menjadi saksi, membela kebenaran demi kepentingan rakyat dan kemaslahatan bangsa. Jangan menjadi saksi tuli dan bisu, nyatakan yang benar, singkirkan yang salah.

Bagi kita, memilih pemimpin itu bagian penting dari ajaran Islam. Jika ingin negara kita ini maju, berdaulat, adil, dan makmur.

Maka wajib bagi kita memilih pemimpin yang berkualitas, yaitu, pertama: memiliki integritas (artinya bermoral dan beretika), dan, kedua, memiliki kapabilitas (mempunyai kemampuan dan kompetensi).

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan dua kriteria pemimpin melalui ungkapan Nabi Yusuf Alaihissalam ketika menyatakan kesiapan untuk menjadi pejabat negeri Mesir.

قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ ﴿يوسف ۵﴾

“Dia (Yusuf) berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) dan berilmu pengetahuan” (QS. Yusuf: 55)

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi rumus yang sederhana, jika bangsa ini menginginkan perubahan yang lebih baik, maka harus memilih pemimpin yang terbaik sebagaimana digambarkan dalam ayat tadi.

Perubahan ini harus dilakukan oleh kita, mulai mensosialisasikan hingga memilih calon pemimpin di kotak suara.

Kita harus aktif dan tidak pasif karena kita yang menghendaki perubahan dan perbaikan. Perbaikan nasib bangsa Indonesia terjadi oleh dan dari bangsa kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya” (QS. Ar Ra’d: 11).

Ayat ini memberi isyarat kepada kita agar bersungguh-sungguh melakukan segala bentuk ikhtiar, usaha, dan aksi nyata di lapangan.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Bukankah setiap hari kita selalu mengulang-ulang doa:

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

Di akhir do’a tersebut, yaitu: “Waj’alna lil Muttaqina Imaman”. Artinya, kita berharap kepada Allah agar dipimpin orang yang bertakwa, bukan sembarang orang.

Kita tidak rela dipimpin orang yang tidak takut kepada Allah. Kepemimpinan negara ini tidak boleh dipisahkan dari keimanan dan ketakwaan. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara urusan agama dengan urusan kehidupan dunia.

Pemimpin yang bertakwa itu memiliki beberapa kriteria yaitu: Pertama: Shiddiq (selalu bersikap benar). Kedua: Amanah (jujur dan bertanggung jawab). Ketga: Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Keempat: Fathanah (memiliki kecerdasan).

Pemimpin yang memiliki rasa takut kepada Allah akan berusaha sekuat tenaga untuk mengoyomi, melindungi, dan mensejahterkan rakyatnya. Dia tidak akan membiarkan rakyatnya terdzalimi di bawah kepemimpinannya.

Dia juga tidak rela jika kedapatan rakyaknya miskin gara-gara sumber daya alamnya dieksplotasi secara sewenang-wenang oleh sekelolmpok bangsanya sendiri dan sekelompok orang asing.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim)

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Melalui pemilu nanti, kita berharap terpilihnya pemimpin yang membela kepentingan rakyat dan peduli terhadap kepentingan agama, rakyat, dan kaum muslimin.

Allah telah memberi telinga kepada kita untuk mendengar baik-baik semua berita dan informasi secara cerdas dan cermat.

Allah juga memberi kita mata untuk melihat rekam jejak para calon pemimpin. Kita juga diberi akal untuk berfikir dan hati untuk merasa.

Semua alat tersebut hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk memilih pemimpin yang terbaik untuk negeri tercinta ini.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Agar pemilu dan pilpres berjalan dengan baik dan berkualitas, kita harus mendorong pemerintah dan memberikan edukasi kepada Masyarakat beberapa hal berikut:

Pertama, menjadikan pemilu nanti tidak gaduh, harus berjalan damai, tenang, aman, dan nyaman.

Kedua, pemilu harus jujur dan transparan, mulai dari pelaksana, pelaku, pengawas, dan pesertanya.

Ketiga, jauhi permusuhan, adu domba, dan fitnah. Jangan saling menghujat dan caci maki, apalagi saling membenci dan bermusuhan dengan saudara, teman atau tetangga sendiri.

Keempat, bermunajat yang maksimal agar Allah menghadirkan pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang jujur, adil dan bertakwa. Agar masyarakat Indonesia ini sejahtera lahir bathin dan bisa menjalankan ajaran agama dengan baik.

Pemilu adalah momentum untuk mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik, lebih maju, adil, makmur, sejahtera, beradab, dan bermartabat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُ

×