Khalid bin Walid, Dari Anak Emas Quraisy menjadi Pilar Kemenangan Islam – Bag. ke-3

Safwan dan Ikrimah diajak masuk Islam, namun, mereka menolaknya. Lalu dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan Uthman bin Talhah serta Amru bin Ash

HidayatullahSulbar.Com – Namun, mereka menolaknya. Lalu dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan Uthman bin Talhah serta Amru bin Ash. Ketiganya pun menemui Rasulullah untuk mengikrarkan ke Islamanya.

Ketiga sahabat mulia ini meminta agar Rasulullah SAW mendoakan kebaikan dan memohon kepada Allah SWT agar mengampuninya. Dan Rasulullah SAW pun mendoakan mereka. Keislaman mereka pun terdengar di telinga kafir Quraisy dan membuat gempar para pemuka-pemukanya.

Seperti yang diketahui, ketiganya adalah anak emas bagi musyrikin Quraisy karena prestasi yang luar biasa. Segala prestasinya kini berbalik ke arah muslimin. Dan dengan kehendak Allah, Khalid bin Walid radhiyallahu anhu menjadi prajurit dan panglima yang selalu memperoleh kemenangan.

Di masa keislamannya, Khalid banyak mengikuti pertempuran. Bisa dikatakan, perjuangannya ditempuh di medan pertempuran demi menegakkan panji kebenaran. Khalid bin Walid juga menghancurkan patung Uzzah saat peristiwa Fatu Makkah ataupun penaklukan Kota Makkah.

Di mana saat ia menghancurkannya, keluarlah sesosok jin wanita yang kedua tangannya menyerami pasir ke arah kepala dan wajahnya. Segera Khalid mengayunkan pedangnya hingga wanita itu binasa. Saat beliau melapor ke Rasulullah, Rasulullah pun bersabda.

Itulah Uzzah, dan ia tidak akan pernah disembah lagi selama-lamanya. Selain itu, masih banyak pertempuran yang diikuti oleh sahabat mulia Khalid bin Walid. Seperti yang kita kenal dalam pertempuran Yamamah, Hunain, Mu’tah, Yarmuk dan lain sebagainya.

Bagaikan elang di saran ketinggian bukit untuk mengawasi musuh. Dan seperti halilintar saat menyerbu. Serta bagaikan Singa pada saat berhadapan dengan lawan. Inilah gambaran yang terlintas di benak Romawi dan Persia kala itu.

Hal itu dirasakan oleh kedua negara super power tersebut saat berhadapan dengan kaum muslimin di medan pertempuran. Meski jumlah mereka jauh lebih besar, namun kekelahan tak dapat mereka hindari. Tidaklah semua itu melainkan karena kehendak Allah dalam melindungi agamanya.

—————– Bagian ke-3 bersambung ——————–

×