Santai  

Kerjabaktilah, Kampus adalah Wajah Kita

HIDAYATULLAHSULBAR.COM, Budaya kerjabakti adalah budaya Islam dan diperagakan oleh para Nabi dalam mengemban misi di setiap zamannya. Nabi Ibrahim harus menyusun batu menjadi Kabah sedangkan nabi Ismail adalah pencari dan pengangkut batunya. Itu respon mereka terhadap perintah Allah dalam membuat Baitullah di bumi.

Erat hubungannya dalam kehidupan berjamaah di Hidayatullah, warga dan jamaah yang tinggal dalam sebuah kampus butuh penataan yang baik. Skenario dan tata letak taman yang dirancang agar mampu memanjakan mata penghuni dan pengunjungnya serta bentuk bangunan yang artistik lagi kokoh.

Semua stimulasi di atas butuh kerja keras kita semua, di beberapa kampus pratama dan kampus rintisan bahkan di kampus kampus utama dan kampus induk Ummul Quro’ sekalipun tidak melulu dikerjakan oleh kuli bangunan dan berbayar. Maka sungguh kerjabakti sebagai warisan para Nabi Allah itu kita tak boleh abai lalu ingkari, mustahil.

Untuk diketahui, Hidayatullah yang awalnya sebuah pondok pesantren yang berdiri di atas lahan wakaf seluas 120 hektar di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur tepatnya pada 7 Januari 1973. Keberadannya dibarengi kerabakti yang setiap hari dilakukan bukan pada hari Ahad saja.

Abdullah Said (almarhum) bersama kawan kawannya terus kerja bakti membuka lokasi Gunung Tembak yang dulunya hutan belantara dan rawa-rawa. Memulai dari nol dengan modal seadanya dan santri beberapa orang. Tapi keyakinan, kesabaran dengan kerja keras dan ibadah ikhlas menjadikan Hidayatullah seperti magnet, banyak santri dan jamaah berdatangan.

Kerjabakti jelas merupakan cerminan hidup sehat, selain menggerakkan otot secara baik juga terdapat interaksi dengan sesama warga dan santri. Sekaligus memotivasi, menumbuhkan karakter yang bertanggung jawab karena setiap kerjabakti ada pembagian formasi lengkap dengan penanggung jawabnya.

Selain memupuk kebersamaan sebagai konsekwensi hidup berjamaah juga mempererat interaksi antar personal di dalamnya. Bahkan beberapa membawa anaknya membiasakan suasana kerjabakti ke dalam kehidupan awal anak mereka.
Pembaca, aktifitas fisik dapat memberikan banyak manfaat terhadap kesehatan. Diantaranya membuat tubuh bugar, mengurangi resiko penyakit penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), hingga kesehatan pencernaan. Maka wajar jika kerjabakti, apapun konsumsi yang disediakan selalu ludes tersantap habis.

Selain menyehatkan, hasilnya sudah pasti menaikkan citra baik terhadap Islam itu sendiri. Karena pesantren sebagai kawah candradimuka haruslah elok dipandang mata dan mengesankan bagian dari praktik peradaban Islam.

Maka, kerjabaktilah karena kampus yang kita terus benahi adalah Konkretisasi pertama yang dapat dilihat oleh umat sebelum perarturan, sistem kerja dan manhaj. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×