28/11/2022

Allah Lebih Mengetahui Kebutuhan Anda

HIDAYATULLAHSULBAR.COM, Perjalanan menempuh waktu beberapa jam untuk sampai ke Balikpapan, kekhawatiran muncul dan rasa berdebar debar kencang, lebih kencang dari bunyi detak jam dinding yang ada di kantor ketika tersadar bahwa kartu ATM yang ada di dompet ternyata tidak bisa digunakan lagi karena kadarluarsa.

Isi dompet hanya tersisa Rp. 191.000, akhirnya memutuskan untuk langsung ke bandara sekalipun jadwal penerbangan dalam tiket pesawat masih pukul 20. 55.

Ingin rasanya berkunjung kembali ke pondok Hidayatullah Balikpapan tetapi khawatir tidak bisa kembali ke bandara lagi. Setelah sampai di bandara disertai rasa was was dalam hati bertanya ke sopir mobil travel, “Pak, berapa yang harus saya bayar..?” dengan ringan dia jawab, “150 rupiah, pak” jawab sopirnya, sontak kata syukur dalam hati terucap dan memgeluarkan uang yang ada dalam dompet untuk membayar travel tersebut.

Tak hanya sampai disitu, waktu sudah menunjukkan pukul 09:45, perut terus berbunyi seakan berteriak dan berontak karena ternyata ingin diisi, tadi pagi sebelum berangkat tidak sempat sarapan.

Istri terlihat khawatir tadi pagi sambil berrtanya “Makan dulu, cukupkah uangnya kakak kalau makan di perjalanan?.

“Cukup, yakin ada Allah” jawabku sambil tersipu. Karena mobilnya sudah datang duluan sebelum kemas kemas barang bawaan, saya pun bergegas.

Di perjalanan melihat ke kiri ada KFC, ingin segera ke tempat itu namun sadar kalau uang di dompet hanya tersisa Rp. 41.000, akhirnya putar haluan mencoba mengingat 2 tahun lalu pernah berada di bandara yang sama dan makan dengan makanan yang murah meriah, mencoba tuk mengingat ternyata di parkiran mobil, alhamduillah segera berjalan mencari kantin tersebut.

Alhamdulillah mendapatkan kantin tersebut dan langsung bertanya “Makanannya berapa, Bu..?” tanyaku.

“16 ribu pak” tutur ibu yg menjual di kantin tersebut. “Minumnya apa mas..?” tanya lelaki karyawan kantin.

Saya memilih air putih, dengan harapan dapat minum yang gratis, meskipun ternyata malah diambilkan sebotol air mineral “Merdeka Squades” ya udahlah mungkin ini sudah ditakdirkan Allah.. makan dan minum dengan lahap sambil menjamak sarapan pagi dengan siang.

Usai makan menuju ke kasir “Berapa mbak semuanya..?” tanyaku.

“24.000 pak” kata mbak kasir. Dalam hati kecilku bergumam, tidak bisa makan malam lagi nampaknya. Maklum pesawatnya ternyata berangkat pukul 20.55. “Yah sudahah istirahat di ruang tunggu di bandara saja kalau begitu”.

Setibanya di ruang tunggu bertemu dengan lelaki yang umurnya sekitar 50 tahunan, dia bekerja di perusahan kelapa sawit.

“Bapak mau kemana?” tanyanya sambil melihat kearah saya. “Saya mau ke Makassar pak”. Jawabku.

Sempat ia menanyakan harga tiket pesawat yang saya naiki, saya sebutkan Rp. 432.750, ia heran karena tidak sama dengan harga beli tiket yang ia miliki yaitu Rp. 1.300.000.
“Kayaknya saya di tipu yah, pak…? kembali ia bertanya penuh heran.

“Coba saya cek di internet, nah disini pak cuma 700.000 lebih… iya mungkin bapak kena tipu”. Saya berusaha meyakinkan.

Ia jelaskan kalau dirinya baru kali ini menaiki pesawat mengingat ada kabar orangtuanya yang tinggal di Tator meninggal dunia dan memintaku untuk membantu membawakan sebagian barang bawaannya.

“Iya pak biar saya bantu sampai ke ruang chek in, nanti selanjutnya diarahkan oleh petugas di sana” saya terus berusaha membuat nyaman bapak bapak itu.

Seraya mengucapkan terimakasih kepada saya, alhamdulillah beres. Sebelum berpisah bapak itu salaman sambil berucap “Ini ada pembeli rokok pak” sempat saya menolak karena agar sejumlah uang yang ia beri untuk beli rokok.

“Tidak usah pak, terimakasih saya juga tidak merokok”. Jawabku tegas. Ia terus memaksa untuk memgambilnya. Saya terima pemberiannya dan ia terlihat sumringah.

“Alhamdulillah bisa beli makan dan minum di bandara sambil menunggu keberangkatan” gumamku bersyukur. Bersyukur karena bisa menolong seseorang.

Dan ternyata benar, Allah taala lebih mengerti kebutuhan hambaNYa, Dia-lah yang mengatur rezeki setiap makhluknya termasuk saya yang dalam perjalanan kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. (*)

Najamuddin, M.Pd.
Kadep. Perkaderan, Bina Anggota dan Diktren DPW Hidayatullah Sulawesi Barat