• Sel. Okt 4th, 2022

Temu Kader Hidayatullah Pasangkayu Kuatkan Ukhuwah dan Kepemimpinan

ByMuhammad Bashori

Agu 14, 2022

HIDAYATULLAHSULBAR.COM, Pasangkayu – Agenda triwulanan yang digagas pengurus Hidayatullah Kabupaten Pasangkayu yakni Temu Kader atau Lailatul Ijtima dan mengangkat tema Dengan Momentum Hijrah, Kita Kuatkan Ukhuwah dan Kepemimpinan.

Berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Bulubonggu Kecamatan Dapurang Kabupaten Pasangkayu pada Sabtu (13/8/2022).

Dihadiri seluruh pengurus Hidayatullah se-Kabupaten Pasangkayu, mulai dari organisasi pendukung, unit dan amal usaha milik organisasi sekitar 50 peserta.

Menghadirkan perintis, pendiri dan senior lembaga. Tampak hadir Ustadz Drs. Sundusin Andi Baso, Ustadz Abdul Majid, S.Pd. anggota DMW Hidayatullah Sulbar Zona Pasangkayu Ustadz Muhajirin Bukhari, Ustadz Habibi Nursalam direktur SDH Sultanbatara dari Parepare dihadirkan dalam acara yang dikemas santai di halaman pondok dengan suasana kekeluargaan.

Menurut Gunawan, S.Pd. hal itu bertujuan mengeratkan silaturahim antar warga juga pengurus agar menambah nilai harmonisme dalam menjalankan amanah.

Acara tersebut diselingi pembacaan SK tugas dua alumni ke-3 SDH Sultanbatara yakni Muhammad Adil Usama bertugas di DPC Hidayatullah Baras dan Putra Ovan di DPC Hidayatullah Bambaira.

Pekikan takbir membahana di seantero halaman pondok usai penetapan formasi yang dibacakan oleh sekretaris DPD Hidayatullah Pasangkayu Amran, S.Sos.

Ditegaskan oleh Muhajirin dalam wejangannya, menjalankan amanah itu jika semata mengharap Ridha Allah Taala akan menyelamatkan kita dari murka-Nya.

“Maka berjuang, berilmu dan bersedekahlah semata mata hanya mengharap Ridho Allah subhanahu wa taala” pungkasnya dalam kesempatan tausiahnya.

Semua tokoh yang hadir menguatkan spirit dalam berjuang di lembaga yang memiliki mainstream dakwah, sosial dan pendidikan tersebut.

Sementara itu, perintis dan senior Hidayatullah Ustadz Sundusin (demikian sapaan familiarnya) banyak mengutip kisah-kisah heroiknya ketika mengawali berdirinya Hidayatullah di tanah Sulawesi era tahun 1990 di Makassar waktu itu.

Kenangnya, merintis Hidayatullah ini adalah pilihan. Sehingga segala akibat dari pilihan itu harus siap diterima dengan sabar dan ikhlas.

“Itulah perjuangan yang sudah menjadi jalan orang-orang beriman, jiwa kita sudah tergadai di jalan dakwah ini” tegasnya dengan intonasi tinggi khas ustadz yang murah senyum ini.

Berbeda dengan ustadz Abdul Majid, S.Pd. yang sedari tadi tampak ikut terbangun spiritnya oleh pembicara sebelumnya. Banyak memaparkan tentang pentingnya muhasabah diri.

Ia menegaskan agar hendaknya kader selalu bermuhasabah termasuk mengevaluasi motivasi berdakwah yang semestinya tidak memiliki unsur angkuh dan sombong.

Sesekali gerimis tipis menggoda hadirin untuk meminta bubar tetapi sejak awal master of ceremony (MC) ustadz Marzuki Darusman menghimbau tidak meninggalkan ‘ruang’ acara kendati turun hujan.

Adapun penguatan ukhuwah dan kepemimpinan disinggung oleh Ustadz Habibi meski secara singkat mengingat timingnya terbatas oleh beberapa pemapar.

“Pentingnya hubungan emosional dan ketaatan dalam berjamaah itu menjadi identitas kader Hidayatullah” terangnya selain menyinggung berjamaah tidaklah mutlak berdomisili dalam satu komplek.

Karena menurutnya, bisa jadi orang yang tinggal tidak satu pondok dengan pengurus justru banyak memudahkan tugas pengurus menjalankan amanahnya di pondok. (bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.