• Ming. Okt 2nd, 2022

Tanamkan Cinta Tanah Air Meski Rute Menuju Desa Sejati Masih Jalan Tanah dan Berair

ByMuhammad Bashori

Feb 7, 2022

Tobadak (HIDAYATULLAHSULBAR.COM) Berada di kecamatan Tobadak kabupaten Mamuju Tengah, desa Sejati sebelumnya Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tobadak VIII ini didiami suku Jawa, Bugis, Mandar dan eksodus Timur Leste dan Poso.

Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan seluruhnya muslim. Meski diawal buka lokasi UPT tersebut ada beberapa warga Nasrani dan Hindu, meski akhirnya non muslim tersebut memilih pindah ke desa terdekat.

Jumlah penduduk desa ini tahun 2020 berjumlah 1.236 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 662 jiwa dan perempuan sebanyak 574 jiwa. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun, 5 Rukun Warga (RW) dan 12 Rukun Tetangga (RT).

Batas timur desa Sejati adalah hutan lindung yang berbatasan dengan hutan lindung Sulawesi Selatan sehingga akses dari desa lain termudah adalah desa Saluadak dengan kondisi jalan yang menantang andrenalin anda sampai saat ini.

Sedangkan bagi dai dai Hidayatullah rute itu wajib dilaui setiap bulannya untuk mengisi pengajian rutin oleh seluruh warga apapun cuaca dan kondisinya.

Setiap hari Ahad akhir bulan ustadz Muhajirin Bukhari yang berdoisili di Taranggi kabupaten Pasangkayu itu harus hadir memberikan materi pengajian.

Di musim hujan ia harus menyiasati perjalanan biasanya menginap di Hidayatullah Saluada dan kalau sudah diguyur hujan akses bawah yang menghubungkan ke dua desa tersebut kondisinya lebih layak disebut sungai.

Kendati demikian ada beberapa ruang jalan yang lumayan bagus dan menghibur pengendara yang melaluinya.

Masih lumayan jika ‘hanya’ becek dan berlumpur setidaknya jalan akan licin dan akibat paling ringannya adalah tersungkur dengan sepeda motor dan barang bawaannya.

Belum lagi alasan lain jika harus membonceng istri tercintanya karena jamaahnya kebanyakan ibu ibu, tentu tingkat ribetnya berbeda bisa empat level di atas istilah rempong.

Rangkaian tantangan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa untuk orang orang bernyali di atas rata rata saja, bagi warga Sejati membawa hasil panen mereka ke pasar terdekat adalah sebuah tantangan tersendiri. Begitu juga tentang pemenuhan kebutuhan mereka, hanya mereka yang punya kebutuhan penting saja yang ‘keluar’, karena dibayang bayangi kondisi jalan.

Untuk Muhajirin dan dai lainnya yang mendapat giliran tentu sudah lumrah mulai persiapan, perjalanan berangkat dan pulang dari majelis taklim Sejati. Seperti itu berjalan secara terus menerus hingga hari ini sebagaimana yang ia tuturkan beberapa hari lalu.

Materi ajar juga tidak ada bedanya dengan desa desa binaan lain di Sulawesi Barat umumnya, mulai perbaikan bacaan al Quran atau tahsin, tajwid dan tafsirnya. Sesekali membahas tatacara penyelenggaraan jenazah.

Desa Sejati didominasi eksodus Timor Leste paska Referendum Timur Leste tahun 1999 silam, hal itu membuat mereka harus punya passport jika akan silaturahmi dengan keluarganya di negara asal mereka Timor Leste.

Wajar dalam materi taklim selalu diselipkan tentang cinta tanah air dan menjaganya, selain hal tersebut juga bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

Pembinaan warga desa Sejati oleh Hidayatullah sendiri sudah berjalan sejak awal dibukanya UPT Tobadak 1996 dan berjalan hingga hari ini. Nur Salam, warga dan tokoh masyarakat asal Timor Leste itu menyatakan rasa syukurnya atas pendampingan Hidayatullah di desanya.

Menurutnya, Sejati, meski jauh dari hingar bingar kota dan lancarnya jaringan internet bukan berarti masyarakatnya aman dari dampak negatif budaya global dan butuh pembinaan untuk menjaga kehidupan beragamanya.(bash)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.