• Sel. Okt 4th, 2022

Betulkah Kita ini Kader Hidayatullah?

ByMuhammad Bashori

Jan 8, 2022

(Disadur dari Tausiah Ustadz Ir. Abu A’la Abdullah, MHI. Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Pada Rakerwil DPW Hidayatullah Sulbar 2022)

Sejatinya kita terkumpul di Hidayatullah karena Allah dan (pasti) terpisah juga mudah-mudahan karena Allah.

Termasuk di Sulawesi Barat, ketika teman teman solid karena Allah, pasti disukseskan program kerjanya. Karena kalau bukan karena Allah, tinggal tunggu waktunya saja untuk hancur dan biasanya hancurnya karena rebutan kekayaan, kedudukan dan wanita. Dan itu adalah fitnah zaman ini.

Makanya itu harus diniatkan jihad karena Allah tapi kalau sejak sekarang ini disiapkan kaderisasi yang baik maka akan terawat juga kepemimpinan ini.

Merawat untuk tetap istiqamah dalam sebuah ikatan itu sangat berat karena raya rata orang hari ini tidak mau terikat (meski) dalam organisasi Islam.

Kondisi ini sangat pelik dalam kehidupan kader, justru kadang anak dan istri sendiri menjadi penghalang dan tidak berhasil dikuatkan dalam berjuang lewat Hidayatullah.

Jangan sampai mengaku kader hanya karena sedang bekerja di amal usaha milik Hidayatullah selanjutnya masih enggan dengan konsekuensi berjamaah.

Oke, tidak semua orang harus menjadi anggota Hidayatullah tapi semua orang harus tercerahkan dengan jati diri Hidayatullah.

Bahkan sudahkah anak istri kita mendukung keterlibatan kita di Hidayatullah?
Sebenarnya ini yang mau saya bilang dari Depok itu, dan jujur mengatakan ini berat, ujian saya juga ada.

Baik, cukuplah lewat Hidayatullah ini dapat jalan menuju surga dan terus harus ditanyakan kepada diri sendiri, apa yang dicari di Hidayatullah? Betulkan ingin berjuang dan tidak mencari dunia saja?

Untuk itu jati diri Hidayatullah terus diintrodusir kepada anak dan istri kita agar mereka terbiasa dengan topik topik tertentu. Kepada santri santri, kepada walimurid dan semua orang.

Kita ingin di (Sulbar) ini terjadi perkaderan yang baik dan anak anaknya tidak harus belajar di Sulbar, silakan ke Amerika atau ke Eropa. Tapi ingat, itu tidak akan ada artinya kalau tidak punya jati diri. Meskipun masih kita utamakan agar anak anak kita tetap sekolah di Hidayatullah.

Silakan aktualisasi diri sesuai potensi bisnis atau apa saja dalam konteks kemandirian akan tetapi jangan lupa niatkan agar bisa berinfak untuk perjuangan secara spektakuler. (Wallahu A’lam) */Bashori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.