• Sel. Okt 4th, 2022

Benalu Akan Mati Dengan Pohon Mangsanya

ByMuhammad Bashori

Sep 13, 2021
Ustadz Mardhatillah

Benalu Akan Mati Dengan Pohon Mangsanya – (Disadur dari briefing Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. Mardhatillah kepada pengurus harian DPD dan Kampus Madya se Sulawesi Barat dalam Agenda Penutupan Konsolidasi dan Upgrading)

Setiap kader adalah pejuang yang identik jauh dari sikap (maaf) pecundang yang apatis atau masa bodoh dengan urusan umat. Pejuang harus peduli dan selalu yakin serta terus bergerak.

Gerakan kita akan terarah karena di Hidayatullah semua pergerakan diatur dalam pedoman atau peraturan-peraturan yang bisa menjadi rambu. Sehingga kerja-kerja secara sistemik itulah yang akan mengantar kader memiliki nilai dan berharga bahkan berdaya saing secara kompetitif.

Hal itulah yang diinginkan setiap setelah selesai mengikuti upgrading atau peningkatan kualitas kader untuk diaplikasikan ke tempat tugas masing masing.

Secara teknis kita sudah memiliki komitmen ekspansi organisasi. Sehingga memaksa untuk eksis dan mandiri tanpa ketergantungan, prinsipnya adalah mandiri dan mencerahkan di manapun bertugas, di daerah yang sudah sehat keuangannya ataupun rintisan yang semua programnya baru dimulai.

Kader Yang Bermental Benalu

Jangan sampai ada kader yang bermental seperti benalu, yang hidup dari saripati makanan pohon. Lalu sedikitpun tidak memberikan manfaat terhadap pohon yang ia mangsa. Bahkan kelak ketika pohon itu mati dan tidak ada lagi saripati yang tidak bisa dihisap oleh benalu, maka iapun perlahan ikut mati.

Akhirnya, kalau sudah begitu prinsipnya, maka kemandirian yang menjadi target utama, baik secara pribadi maupun dalam berorganisasi, akan mengurangi wibawa dakwah di tengah masyarakat.

Kinerja ini harus ekstra dan lebih di atas rata rata manusia, mengingat fungsi bukan hanya pada formalitas organisasi tapi lebih luas membawakan kultur peradaban secara utuh.

Makanya, biasa kita dengar bahwa kerja kader dimulai sejak pukul 3(tiga) dinihari, mulai dari merencanakan target capaian hari itu, memikirkan strategi pencapaian lalu dimunajatkan kepada Rabb dan dengan spirit kerja tinggi, lalu mengimplementasikan ke dalam kehidupan besok siangnya.

Ekspresi itu secara tegas terpampang di wajahnya ketika ditanya. “Apa yang mau diselesaikan hari ini?” Seolah, belum selesai pertanyaan itu sudah tersusun rapi jawabannya.

Output Konsolidasi dan Upgrading

Sebenarnya sederhana saja output upgrading atau pembekalan dan konsolidasi ini. Yaitu bagaimana membangun komunikasi secara luas. Bisa di tempat kerja bakti sambil santai, usai shalat atau bahkan di sela-sela acara formal seperti ini.

Hal tersebut membutuhkan kreativitas kader atau pemimpin yang baik. Mampu mengimplementasikan iman ke dalam kehidupan sehari-hari dan itulah yang dimaksud dengan peradaban Islam.

Sebagai pemimpin, jangan jauh dari teman dalam pergaulan sehari-hari. Karena bisa jadi celetukan itu membuat kita tersinggung, namun dibalik itu sangat mungkin menginspirasi.

Hadirnya ketua atau pemimpin secara langsung melebur di tengah orang yang dipimpin. Dan mampu menambah keakraban serta menyemangati orang yang dipimpinnya.

Apalagi dalam kepemimpinan formal, middle staff sangat menentukan wibawa ketua. Misalkan sekretaris adalah orang yang paling memahami rencana dan ide ketua, sedangkan bendahara harus mengerti apa yang diinginkan ketua.

Sekretaris dan bendahara atau program dan keuangan harus menjadi tameng utama ketua. Agar supaya kinerja semua departemen dapat terkontrol dengan baik, progres dan kegiatannya.

Cuma ‘kan tidak mungkin kita menyapa seluruh kader setiap hari se-Sulawesi Barat dan menyemangati agar tetap terjaga spirit ibadah dan etos kerjanya.

Disitulah urgensi pembekalan dan konsolidasi ini dianggap efektif. Dengan mengundang pengurus harian DPD dan Kampus Madya agar sepulang dari sini kami akan ‘mengikuti’ sejauh mana perencanaan dan aplikasi programnya. */bash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.